Membangun brand di era digital bukan hanya tentang memiliki logo yang menarik atau aktif mengunggah konten di media sosial.
Saat ini, konsumen dapat menemukan sebuah brand melalui berbagai titik kontak. Mereka bisa melihat iklan di media sosial, menemukan website melalui Google, melihat billboard ketika bepergian, membaca review, hingga mendapatkan rekomendasi dari orang lain.
Semua interaksi tersebut dapat memengaruhi bagaimana sebuah brand dipersepsikan.
Karena itu, membangun brand yang kuat membutuhkan strategi yang lebih menyeluruh. Brand perlu memiliki identitas yang jelas, pesan yang konsisten, serta kehadiran yang mudah dikenali di berbagai channel.
1. Tentukan Positioning Brand
Langkah pertama adalah menentukan bagaimana brand ingin dikenal oleh target audience.
Positioning membantu menjawab pertanyaan:
“Brand ini ingin dikenal sebagai apa?”
Misalnya brand ingin dikenal sebagai:
- Premium.
- Terjangkau.
- Inovatif.
- Praktis.
- Ramah lingkungan.
- Profesional.
Positioning yang jelas akan membantu menentukan cara brand berkomunikasi, memilih visual, hingga menentukan media yang digunakan.
Tanpa positioning yang jelas, brand dapat terlihat seperti mengikuti semua tren tanpa memiliki karakter sendiri.
2. Kenali Target Audience
Brand yang kuat tidak berusaha berbicara kepada semua orang sekaligus.
Tentukan siapa target audience utama.
Perhatikan:
- Demografi.
- Lokasi.
- Kebutuhan.
- Kebiasaan.
- Masalah.
- Preferensi.
- Cara mereka mencari informasi.
Semakin memahami target audience, semakin mudah brand menentukan pesan yang relevan.
Misalnya brand B2B tentu membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda dibandingkan brand yang menjual produk langsung kepada konsumen.
3. Bangun Identitas Brand yang Konsisten
Identitas brand bukan hanya logo.
Identitas dapat mencakup:
- Logo.
- Warna.
- Tipografi.
- Fotografi.
- Gaya desain.
- Tone of voice.
- Tagline.
- Gaya komunikasi.
Konsistensi membuat brand lebih mudah dikenali ketika muncul di berbagai media.
Bayangkan seseorang melihat sebuah iklan tanpa membaca nama brand. Jika mereka tetap bisa mengenali brand dari warna, visual, atau gaya komunikasinya, berarti identitas brand tersebut sudah cukup kuat.
4. Buat Pesan Brand yang Mudah Dipahami
Brand perlu memiliki pesan yang jelas.
Jangan hanya menjelaskan:
“Kami adalah perusahaan yang menyediakan solusi terbaik dan inovatif.”
Pesan seperti ini terlalu umum.
Lebih baik jelaskan:
Apa yang ditawarkan, kepada siapa, dan apa manfaatnya.
Pesan yang sederhana justru lebih mudah dipahami dan diingat.
Terutama jika pesan digunakan pada media dengan waktu exposure singkat seperti billboard atau videotron.
5. Bangun Brand Awareness
Brand yang kuat perlu dikenal terlebih dahulu.
Awareness dapat dibangun melalui berbagai channel, seperti:
- Social media.
- Search advertising.
- Video advertising.
- Content marketing.
- Billboard.
- Videotron.
- Transit advertising.
- Event.
Tujuannya adalah membuat target audience semakin familiar dengan nama dan identitas brand.
Namun, awareness bukan hanya soal seberapa sering brand muncul.
Relevansi dan konsistensi exposure juga penting.
6. Jangan Hanya Mengandalkan Digital
Era digital bukan berarti semua aktivitas branding harus dilakukan secara digital.
Konsumen masih beraktivitas di dunia nyata.
Mereka:
- Berangkat kerja.
- Naik transportasi umum.
- Berbelanja.
- Berkendara.
- Pergi ke mall.
- Mengunjungi bandara.
- Bepergian antarkota.
Artinya, brand tetap memiliki peluang untuk membangun awareness melalui media offline.
Misalnya digital campaign dapat diperkuat dengan:
Social Media + Search Ads + Billboard
Media digital dan offline tidak harus diposisikan sebagai pilihan yang saling menggantikan.
Keduanya dapat saling melengkapi.
7. Gunakan Content Marketing
Konten dapat membantu brand memberikan alasan bagi audience untuk terus berinteraksi.
Konten tidak harus selalu menjual.
Brand dapat membuat:
- Edukasi.
- Tips.
- Insight.
- Tutorial.
- Studi kasus.
- Entertainment.
- Storytelling.
Konten yang relevan dapat membantu membangun persepsi bahwa brand memahami kebutuhan audience.
8. Bangun Kepercayaan
Awareness saja tidak cukup.
Setelah mengenal brand, audience perlu memiliki alasan untuk mempercayainya.
Kepercayaan dapat dibangun melalui:
- Testimoni.
- Review.
- Portofolio.
- Studi kasus.
- Sertifikasi.
- Transparansi.
- Konsistensi pelayanan.
Untuk bisnis jasa, aspek ini bahkan bisa menjadi sangat penting karena calon pelanggan tidak dapat melihat bentuk produk sebelum membeli.
9. Berikan Pengalaman yang Konsisten
Brand bukan hanya tentang apa yang dikatakan perusahaan.
Brand juga terbentuk dari pengalaman pelanggan.
Misalnya:
Iklan mengatakan:
“Pelayanan cepat.”
Tetapi customer service membutuhkan waktu lama untuk merespons.
Ada ketidaksesuaian antara komunikasi dan pengalaman.
Karena itu, branding perlu didukung oleh pengalaman yang sesuai dengan janji brand.
10. Manfaatkan Social Proof
Ketika brand masih baru atau belum terlalu dikenal, calon pelanggan mungkin membutuhkan bukti dari orang lain.
Social proof dapat berupa:
- Rating.
- Review.
- Testimoni.
- User-generated content.
- Case study.
- Logo klien.
- Jumlah pengguna.
Semakin banyak bukti yang relevan, semakin mudah calon pelanggan mendapatkan gambaran mengenai kredibilitas brand.
11. Gunakan Data untuk Mengambil Keputusan
Era digital memberikan banyak data yang dapat digunakan untuk mengevaluasi branding.
Misalnya:
- Website traffic.
- Search volume.
- Brand search.
- Social media engagement.
- Reach.
- Impressions.
- Video views.
- Leads.
Data tersebut dapat membantu melihat apakah strategi yang dilakukan benar-benar menghasilkan perubahan.
Namun, jangan hanya mengejar angka engagement.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah aktivitas ini membantu brand mencapai tujuan yang sudah ditentukan?”
12. Integrasikan Berbagai Channel
Brand yang kuat biasanya tidak berdiri hanya pada satu channel.
Seseorang mungkin pertama kali melihat brand melalui billboard.
Kemudian:
Billboard
→ Membuat audience mengenal brand.
↓
Social Media
→ Audience mencari tahu lebih lanjut.
↓
→ Audience mencari informasi.
↓
Website
→ Audience memahami produk atau jasa.
↓
Customer Service
→ Audience melakukan inquiry.
Setiap channel memiliki fungsi yang berbeda.
Karena itu, penting untuk memastikan pengalaman brand tetap konsisten di seluruh touchpoint.
13. Bangun Brand Secara Konsisten
Brand yang kuat tidak terbentuk hanya melalui satu campaign.
Dibutuhkan konsistensi dalam:
- Pesan.
- Visual.
- Frekuensi.
- Kualitas komunikasi.
- Customer experience.
Satu campaign mungkin dapat membuat brand menjadi viral.
Namun, konsistensi yang membangun brand dalam jangka panjang.
14. Jangan Terlalu Cepat Mengikuti Tren
Tren digital berubah sangat cepat.
Setiap minggu bisa muncul format, meme, atau platform baru.
Mengikuti tren memang dapat membantu mendapatkan perhatian, tetapi tidak semua tren sesuai dengan karakter brand.
Sebelum mengikuti tren, tanyakan:
“Apakah tren ini relevan dengan brand dan target audience?”
Jika tidak, lebih baik mempertahankan komunikasi yang konsisten daripada sekadar mengejar exposure.
15. Ukur Brand dari Waktu ke Waktu
Brand building membutuhkan waktu.
Karena itu, evaluasi tidak selalu harus berdasarkan penjualan jangka pendek.
Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain:
- Brand awareness.
- Brand search.
- Reach.
- Share of Voice.
- Brand recall.
- Engagement.
- Website traffic.
- Leads.
- Customer retention.
Dengan melihat indikator tersebut secara berkala, brand dapat memahami apakah positioning dan komunikasinya semakin kuat.
Contoh Strategi Branding di Era Digital
Misalnya sebuah brand baru ingin memasuki pasar Jakarta.
Strateginya dapat dibangun seperti berikut:
Tahap 1 — Positioning
Tentukan bagaimana brand ingin dikenal.
Tahap 2 — Awareness
Gunakan kombinasi:
OOH + Social Media + Video
untuk memperkenalkan brand.
Tahap 3 — Education
Gunakan:
Content + Website
untuk menjelaskan produk dan manfaatnya.
Tahap 4 — Consideration
Gunakan:
Testimoni + Review + Case Study
untuk membangun kepercayaan.
Tahap 5 — Conversion
Gunakan:
Search Ads + Retargeting + Promotion
untuk mendorong tindakan.
Dengan pendekatan ini, setiap channel memiliki fungsi yang berbeda tetapi tetap mengarah pada tujuan yang sama.
Membangun brand yang kuat di era digital membutuhkan lebih dari sekadar aktif di media sosial.
Brand perlu memiliki:
- Positioning yang jelas.
- Target audience yang spesifik.
- Identitas yang konsisten.
- Pesan yang mudah dipahami.
- Awareness yang terus dibangun.
- Konten yang relevan.
- Kredibilitas.
- Customer experience yang baik.
- Konsistensi di berbagai channel.
Digital memang mengubah cara brand berkomunikasi, tetapi prinsip dasar branding tetap sama:
Brand yang kuat adalah brand yang mudah dikenali, mudah diingat, dipercaya, dan memiliki alasan yang jelas untuk dipilih.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana supaya brand kita terlihat di internet?”
Tetapi juga:
“Ketika brand kita terlihat, apa yang ingin audience pikirkan dan rasakan?”
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar dalam membangun brand yang kuat dan konsisten dalam jangka panjang.