Memilih media advertising bukan sekadar menentukan apakah brand akan beriklan di digital, billboard, televisi, atau media lainnya.
Media yang terlihat besar belum tentu paling efektif. Begitu juga media dengan biaya paling murah belum tentu memberikan hasil terbaik.
Media advertising yang tepat adalah media yang mampu menghubungkan brand dengan target audience secara relevan dan membantu mencapai tujuan campaign.
Karena itu, sebelum menentukan media, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
1. Tentukan Tujuan Campaign
Langkah pertama adalah mengetahui apa yang ingin dicapai melalui advertising.
Apakah campaign bertujuan untuk:
- Meningkatkan brand awareness?
- Meluncurkan produk baru?
- Membangun brand image?
- Mendapatkan leads?
- Meningkatkan traffic?
- Mendorong penjualan?
- Menginformasikan promo?
Tujuan yang berbeda membutuhkan pendekatan media yang berbeda.
Misalnya, brand yang ingin meningkatkan awareness secara luas mungkin membutuhkan media dengan jangkauan besar. Sementara bisnis yang ingin mendapatkan calon pelanggan yang sudah memiliki kebutuhan dapat lebih mempertimbangkan search advertising.
2. Kenali Target Audience
Media yang tepat adalah media yang digunakan oleh target audience.
Cari tahu:
- Siapa targetnya?
- Di mana mereka berada?
- Apa aktivitas mereka?
- Bagaimana mereka mencari informasi?
- Media apa yang sering mereka konsumsi?
- Kapan mereka paling mungkin melihat iklan?
Misalnya target audience adalah pekerja kantoran di Jakarta.
Selain media digital, brand dapat mempertimbangkan media yang berada di jalur komuter seperti billboard, transportasi umum, stasiun, atau area perkantoran.
Dengan memahami kebiasaan audience, pemilihan media menjadi lebih terarah.
3. Pertimbangkan Lokasi Target
Untuk campaign yang memiliki target geografis tertentu, lokasi menjadi faktor penting.
Misalnya sebuah bisnis hanya melayani pelanggan di Jakarta Selatan.
Tidak selalu masuk akal untuk menggunakan media yang menjangkau seluruh Indonesia.
Sebaliknya, brand dapat memilih media yang terkonsentrasi di area target.
Dalam OOH advertising, hal ini menjadi sangat penting karena lokasi media menentukan siapa yang berpotensi melihat iklan.
Contohnya:
Target: Komuter Jakarta Timur–Jakarta Pusat
Media dapat diarahkan ke:
- Jalur komuter.
- Stasiun.
- Jalan utama.
- Area transit.
Jadi, bukan hanya media apa yang dipilih, tetapi juga di mana media tersebut berada.
4. Sesuaikan dengan Karakter Produk
Tidak semua produk cocok dikomunikasikan dengan cara yang sama.
Produk yang mengandalkan visual seperti:
- Fashion.
- Makanan.
- Otomotif.
- Properti.
- Kosmetik.
dapat memanfaatkan media yang memberikan ruang visual besar.
Sementara produk atau jasa yang membutuhkan penjelasan lebih panjang mungkin membutuhkan kombinasi antara advertising dan media yang dapat memberikan informasi lebih detail, seperti website atau landing page.
5. Tentukan Besarnya Jangkauan yang Dibutuhkan
Pertimbangkan seberapa luas audience yang ingin dijangkau.
Jika targetnya sangat luas, media seperti:
- Television.
- OOH.
- Digital video.
- Social media advertising.
dapat menjadi pilihan.
Jika targetnya lebih spesifik, media dengan targeting yang lebih terarah dapat dipertimbangkan.
Namun, reach yang besar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Reach yang relevan lebih bernilai daripada sekadar menjangkau banyak orang yang tidak sesuai target.
6. Perhatikan Frekuensi Exposure
Satu kali melihat iklan belum tentu membuat seseorang mengingat brand.
Karena itu, selain reach, pertimbangkan juga frequency atau seberapa sering audience berpotensi terpapar pesan.
Misalnya brand menargetkan komuter yang melewati rute yang sama setiap hari.
Media seperti billboard atau transit advertising dapat memberikan exposure berulang kepada audience tersebut.
Kombinasi antara reach dan frequency dapat membantu meningkatkan peluang brand untuk dikenali dan diingat.
7. Sesuaikan dengan Budget
Budget menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih media advertising.
Namun, jangan hanya membandingkan harga placement.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang didapatkan dari investasi tersebut?
Pertimbangkan:
- Potensi reach.
- Frequency.
- Durasi campaign.
- Lokasi.
- Format.
- Kualitas audience.
- Potensi dampak terhadap objective.
Media dengan harga lebih tinggi bisa saja lebih sesuai jika mampu memberikan exposure kepada audience yang memang menjadi target brand.
Sebaliknya, media murah belum tentu efisien jika audience yang dijangkau tidak relevan.
8. Pertimbangkan Durasi Campaign
Durasi juga memengaruhi pemilihan media.
Campaign untuk product launch mungkin membutuhkan burst exposure dalam waktu singkat.
Sementara campaign brand building dapat membutuhkan kehadiran yang lebih konsisten dalam jangka panjang.
Misalnya:
Product Launch
→ Exposure tinggi dalam periode tertentu.
Brand Building
→ Konsistensi dan frequency dalam jangka panjang.
Strategi media sebaiknya mengikuti kebutuhan tersebut.
9. Sesuaikan Format Iklan dengan Pesan
Pesan yang ingin disampaikan juga menentukan media.
Jika pesan sederhana seperti:
“Promo 50% Hari Ini.”
banyak media dapat digunakan.
Namun, jika campaign membutuhkan storytelling, demonstrasi, atau visual bergerak, media video mungkin lebih sesuai.
Untuk billboard, pesan perlu lebih singkat karena audience hanya memiliki waktu terbatas untuk melihatnya.
Untuk digital, brand dapat mengembangkan pesan dalam beberapa format dan tahap komunikasi.
10. Perhatikan Customer Journey
Tidak semua audience berada pada tahap yang sama.
Ada yang:
Belum mengenal brand
→ membutuhkan awareness.
Sudah mengenal tetapi masih mencari informasi
→ membutuhkan consideration.
Sudah tertarik
→ membutuhkan alasan untuk melakukan tindakan.
Karena itu, media dapat dipilih berdasarkan perannya dalam customer journey.
Contohnya:
OOH
→ Awareness.
Social Media
→ Awareness + Engagement.
Search Ads
→ Menangkap intent.
Website
→ Information + Consideration.
Retargeting
→ Conversion.
Bukan berarti satu media hanya boleh digunakan untuk satu tahap. Satu media dapat memiliki beberapa fungsi tergantung strategi campaign.
11. Jangan Memilih Media Hanya karena Kompetitor Menggunakannya
Melihat kompetitor beriklan di media tertentu memang bisa menjadi referensi.
Tetapi bukan berarti brand harus langsung mengikutinya.
Strategi kompetitor belum tentu sesuai dengan:
- Target audience.
- Budget.
- Positioning.
- Objective.
- Lokasi brand.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Mengapa media tersebut digunakan dan apakah alasan yang sama berlaku untuk brand kita?”
12. Gunakan Media Mix Jika Dibutuhkan
Dalam banyak campaign, satu media saja tidak selalu cukup.
Brand dapat menggabungkan beberapa media agar saling melengkapi.
Contohnya:
OOH
Membangun awareness dan visibility.
↓
Social Media
Memperkuat engagement.
↓
Search Ads
Menangkap audience yang mulai mencari informasi.
↓
Website
Memberikan informasi lebih lengkap.
↓
WhatsApp / Form
Menghasilkan inquiry atau leads.
Dengan media mix, audience dapat menemukan brand di beberapa touchpoint selama customer journey.
Contoh Memilih Media Advertising
Misalnya sebuah brand otomotif ingin meluncurkan mobil baru di Jakarta.
Objective
Membangun awareness dan meningkatkan consideration.
Target
Profesional usia produktif di wilayah Jabodetabek.
Strategi Media
OOH
Digunakan untuk meningkatkan visibility melalui billboard dan videotron di lokasi strategis.
Digital Video
Digunakan untuk menjelaskan desain, fitur, dan pengalaman berkendara.
Social Media
Digunakan untuk engagement dan product education.
Search Advertising
Digunakan untuk menangkap audience yang mulai mencari informasi mengenai mobil tersebut.
Website
Digunakan sebagai sumber informasi lengkap dan tempat calon konsumen melakukan inquiry.
Setiap media memiliki fungsi berbeda, tetapi semuanya mendukung campaign yang sama.
Media Advertising Mana yang Cocok untuk Bisnis?
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua bisnis.
Sebagai gambaran:
| Tujuan | Media yang Dapat Dipertimbangkan |
|---|---|
| Brand Awareness | OOH, TV, Video, Social Media |
| Product Launch | OOH, Video, Social Media |
| Local Awareness | OOH, Social Media, Local Ads |
| Website Traffic | Search Ads, Social Media, Display |
| Leads | Search Ads, Social Media, Landing Page |
| Brand Image | Premium OOH, TV, Video, Airport |
| Promotional Campaign | Digital Ads, OOH, Social Media |
| B2B Awareness | OOH, LinkedIn, Search, Content |
Tabel tersebut bukan aturan mutlak. Pemilihan akhir tetap perlu mempertimbangkan target audience, lokasi, budget, dan karakter campaign.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Hanya Memilih Berdasarkan Harga
Harga murah tidak otomatis berarti efisien.
Mengejar Reach Tanpa Memikirkan Relevansi
Audience yang tidak sesuai target tidak banyak membantu campaign.
Menggunakan Semua Media Sekaligus
Banyak media tanpa strategi yang jelas justru dapat membuat budget tidak fokus.
Tidak Menyesuaikan Creative
Pesan yang sama belum tentu cocok untuk semua media.
Tidak Menentukan KPI
Tanpa KPI, sulit mengetahui apakah media yang dipilih benar-benar memberikan hasil.
Cara memilih media advertising yang tepat dimulai dari tujuan campaign, bukan dari media yang ingin digunakan.
Pertimbangkan:
- Tujuan campaign.
- Target audience.
- Lokasi.
- Karakter produk.
- Reach dan frequency.
- Budget.
- Durasi campaign.
- Format pesan.
- Customer journey.
- KPI yang ingin dicapai.
Pada akhirnya, media advertising yang paling tepat bukan selalu media yang paling besar, paling mahal, atau paling populer.
Media yang tepat adalah media yang mampu mempertemukan brand dengan target audience yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan pesan yang relevan.
Itulah yang membuat investasi advertising menjadi lebih terarah dan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dampak terhadap bisnis.