Memulai bisnis baru bukan hanya soal memiliki produk atau jasa yang bagus. Tantangan berikutnya adalah membuat orang tahu bahwa bisnis tersebut ada.
Sebagus apa pun produk yang ditawarkan, akan sulit mendapatkan pelanggan jika target audience belum mengenal brand, tidak memahami manfaatnya, atau bahkan tidak tahu cara mendapatkannya.
Karena itu, promosi menjadi bagian penting dalam tahap awal membangun bisnis.
Namun, bisnis baru biasanya memiliki keterbatasan budget. Artinya, promosi tidak bisa dilakukan dengan sekadar memasang iklan sebanyak mungkin.
Yang lebih penting adalah menentukan siapa yang ingin dijangkau, pesan yang ingin disampaikan, serta media yang paling sesuai dengan kondisi bisnis.
1. Tentukan Target Audience Terlebih Dahulu
Sebelum memilih media promosi, tentukan siapa calon pelanggan yang ingin dijangkau.
Jangan berhenti pada target seperti:
“Semua orang.”
Target yang terlalu luas akan membuat strategi promosi sulit diarahkan.
Coba tentukan berdasarkan:
- Usia.
- Lokasi.
- Pekerjaan.
- Kebutuhan.
- Kebiasaan.
- Daya beli.
- Masalah yang mereka hadapi.
Misalnya bisnis baru menjual makanan sehat untuk pekerja kantoran di Jakarta.
Targetnya bisa lebih spesifik:
Profesional usia 25–40 tahun yang bekerja di kawasan perkantoran dan membutuhkan pilihan makan praktis.
Dengan target seperti ini, pemilihan media dan pesan promosi akan lebih mudah.
2. Bangun Awareness Sebelum Mengejar Penjualan
Salah satu kesalahan bisnis baru adalah langsung fokus pada:
“Bagaimana caranya orang membeli?”
Padahal ada tahap sebelumnya:
“Apakah orang sudah tahu kita ada?”
Brand baru perlu membangun awareness terlebih dahulu.
Audiens perlu mengetahui:
- Nama brand.
- Produk atau jasa yang ditawarkan.
- Manfaatnya.
- Siapa yang cocok menggunakannya.
- Di mana mereka bisa mendapatkannya.
Setelah awareness mulai terbentuk, promosi dapat diarahkan lebih jauh ke consideration dan conversion.
3. Buat Identitas Brand yang Konsisten
Promosi akan lebih mudah diingat jika brand memiliki identitas yang konsisten.
Perhatikan:
- Logo.
- Warna.
- Font.
- Gaya visual.
- Tone of voice.
- Tagline.
- Gaya komunikasi.
Misalnya sebuah brand ingin terlihat modern dan premium. Identitas visual serta cara komunikasinya perlu mendukung positioning tersebut.
Konsistensi membantu audience mengenali brand ketika mereka melihatnya di berbagai media.
4. Manfaatkan Media Digital
Media digital dapat menjadi salah satu pilihan untuk bisnis baru karena tersedia banyak format dan opsi targeting.
Beberapa channel yang dapat digunakan antara lain:
- Instagram.
- TikTok.
- Facebook.
- YouTube.
- Google Search.
- Website.
- Marketplace.
Namun, bukan berarti bisnis harus aktif di semua platform.
Pilih platform berdasarkan di mana target audience benar-benar berada.
Jika target audience lebih aktif mencari produk melalui Google, search advertising dan SEO dapat menjadi pertimbangan.
Jika produk sangat mengandalkan visual, Instagram atau TikTok mungkin lebih relevan.
5. Buat Konten yang Menjawab Kebutuhan Audience
Jangan membuat konten hanya untuk memenuhi jadwal posting.
Konten sebaiknya memberikan alasan bagi audience untuk memperhatikan brand.
Misalnya bisnis baru menjual skincare.
Kontennya tidak harus selalu:
“Beli produk kami.”
Bisa juga membahas:
- Cara memilih skincare.
- Kesalahan penggunaan produk.
- Tips perawatan kulit.
- Perbedaan jenis bahan.
- Cara menggunakan produk.
Dengan begitu, brand dapat membangun awareness sekaligus memberikan value kepada audience.
6. Gunakan Promosi untuk Mendapatkan Pelanggan Pertama
Setelah awareness mulai dibangun, bisnis baru dapat menggunakan promotional offer untuk mendorong trial.
Contohnya:
- Diskon pembelian pertama.
- Gratis ongkir.
- Bundling.
- Voucher.
- Buy 1 Get 1.
- Free trial.
- Bonus produk.
Namun, jangan membuat diskon menjadi satu-satunya alasan orang membeli.
Jika sejak awal brand hanya dikenal karena harga murah, akan lebih sulit membangun persepsi value dalam jangka panjang.
7. Pertimbangkan Advertising Berbayar
Organic marketing membutuhkan waktu.
Karena itu, bisnis baru dapat mengombinasikannya dengan paid advertising.
Contohnya:
Google Ads
Cocok ketika calon pelanggan sudah mencari produk atau jasa yang ditawarkan.
Social Media Ads
Dapat digunakan untuk menjangkau audience berdasarkan karakteristik dan perilaku tertentu.
OOH Advertising
Dapat dipertimbangkan ketika bisnis ingin membangun visibility secara lokal atau menjangkau audience dalam skala lebih luas.
Kuncinya bukan memilih media yang paling populer, tetapi media yang paling sesuai dengan objective dan target audience.
8. Jangan Mengabaikan Promosi Offline
Promosi digital bukan berarti semua aktivitas harus dilakukan secara online.
Untuk bisnis tertentu, media offline masih sangat relevan.
Contohnya:
- Billboard.
- Spanduk.
- Neonbox.
- Signage.
- Event.
- Booth.
- Brosur.
- Branding kendaraan.
Misalnya sebuah restoran baru membuka cabang di Jakarta.
Selain social media, restoran dapat menggunakan signage, media di sekitar lokasi, atau billboard untuk memberi tahu masyarakat sekitar bahwa restoran tersebut sudah hadir.
Offline dan digital juga dapat dikombinasikan.
Contohnya:
Billboard → QR Code → Instagram/Website → Promo → Purchase
Dengan cara ini, media offline menjadi pintu masuk menuju channel digital.
9. Manfaatkan Lokasi Bisnis
Untuk bisnis yang memiliki lokasi fisik, area sekitar dapat menjadi media promosi yang sangat penting.
Pastikan orang yang melewati lokasi dapat mengetahui:
- Nama bisnis.
- Apa yang ditawarkan.
- Lokasinya.
- Cara menghubungi.
- Promo jika ada.
Signage yang jelas, neonbox, dan media di sekitar lokasi dapat membantu meningkatkan visibility.
Untuk bisnis lokal, kedekatan dengan calon pelanggan sering kali lebih penting daripada menjangkau audience yang sangat luas.
10. Bangun Social Proof
Bisnis baru biasanya menghadapi satu masalah:
Belum banyak orang yang mengenalnya.
Karena itu, social proof sangat membantu.
Beberapa bentuknya:
- Testimoni pelanggan.
- Review.
- Rating.
- User-generated content.
- Portofolio.
- Studi kasus.
Setelah mendapatkan pelanggan pertama, jangan berhenti di transaksi.
Pengalaman mereka dapat menjadi materi yang membantu meyakinkan calon pelanggan berikutnya.
11. Gunakan Word of Mouth
Rekomendasi dari pelanggan dapat menjadi promosi yang sangat kuat.
Bisnis dapat mendorong word of mouth dengan memberikan pengalaman yang memang layak dibicarakan.
Misalnya:
- Produk unik.
- Packaging menarik.
- Pelayanan cepat.
- Customer service yang responsif.
- Program referral.
Orang cenderung lebih percaya ketika rekomendasi datang dari orang yang mereka kenal.
12. Pilih Media Berdasarkan Tujuan
Tidak semua media harus digunakan sekaligus.
Gunakan pertanyaan sederhana:
Jika tujuan utama awareness
Pertimbangkan media dengan kemampuan reach dan visibility tinggi.
Contohnya:
- OOH.
- Video advertising.
- Social media.
- YouTube.
Jika tujuan utama mendapatkan traffic
Pertimbangkan:
- Search Ads.
- Social Media Ads.
- Content marketing.
Jika tujuan utama conversion
Pertimbangkan:
- Search Ads.
- Retargeting.
- Marketplace Ads.
- Promotional campaign.
Satu media juga dapat memiliki beberapa fungsi. Yang membedakan adalah bagaimana campaign tersebut dirancang.
13. Kombinasikan Online dan Offline
Untuk bisnis baru, kombinasi media dapat menciptakan efek yang lebih kuat.
Misalnya:
OOH
↓
Membangun awareness
↓
Social Media
↓
Memberikan informasi lebih detail
↓
Website
↓
Memberikan informasi produk
↓
Promo
↓
Mendorong pembelian
Strategi seperti ini membantu setiap channel menjalankan peran yang berbeda dalam customer journey.
14. Tentukan Budget Promosi
Jangan menentukan budget hanya berdasarkan:
“Berapa uang yang tersisa?”
Budget sebaiknya dikaitkan dengan tujuan.
Misalnya budget dibagi untuk:
- Content.
- Paid Ads.
- OOH.
- Influencer.
- Promotional offer.
- Event.
Bisnis juga dapat memulai dari skala kecil, melihat hasilnya, kemudian mengalokasikan budget lebih besar ke channel yang memberikan performa terbaik.
15. Ukur Hasil Promosi
Promosi tidak berhenti ketika iklan sudah tayang.
Lihat hasilnya.
Beberapa metrik yang dapat digunakan:
Awareness
- Reach.
- Impressions.
- Frequency.
- Brand search.
Engagement
- Likes.
- Comments.
- Shares.
- Saves.
- Video views.
Traffic
- Website visitors.
- Landing page visits.
- Clicks.
Conversion
- Leads.
- Inquiry.
- Purchase.
- Revenue.
Jangan hanya melihat:
“Berapa banyak orang yang melihat iklan?”
Tanyakan juga:
“Apa yang terjadi setelah mereka melihatnya?”
Contoh Strategi Promosi untuk Bisnis Baru
Misalnya ada coffee shop baru di Jakarta Selatan.
Target
Profesional dan mahasiswa usia 20–35 tahun di sekitar lokasi.
Tahap 1 — Awareness
Gunakan:
- Social media.
- Content creator lokal.
- Media sekitar lokasi.
- OOH lokal.
Tujuannya membuat orang tahu coffee shop tersebut sudah hadir.
Tahap 2 — Consideration
Tampilkan:
- Menu.
- Harga.
- Suasana.
- Lokasi.
- Review pelanggan.
Tahap 3 — Trial
Berikan:
Promo opening atau voucher pembelian pertama.
Tahap 4 — Retention
Gunakan:
- Loyalty program.
- Promo pelanggan.
- Social media.
- WhatsApp marketing.
Dengan begitu, promosi tidak berhenti pada mendapatkan pelanggan pertama.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Menggunakan Semua Media Sekaligus
Banyak channel bukan berarti strategi lebih baik.
Hanya Mengandalkan Diskon
Diskon dapat menarik pembelian, tetapi tidak otomatis membangun brand.
Tidak Menentukan Target
Pesan akhirnya terlalu umum dan sulit relevan.
Tidak Konsisten
Brand terlihat berbeda-beda di setiap channel.
Tidak Mengukur Hasil
Tanpa data, sulit mengetahui channel mana yang efektif.
Terlalu Cepat Mengharapkan Penjualan
Brand baru membutuhkan waktu untuk membangun awareness dan kepercayaan.
Strategi promosi untuk bisnis yang baru berdiri sebaiknya dimulai dari membangun awareness, mengenalkan value, dan membangun kepercayaan sebelum terlalu agresif mengejar penjualan.
Langkahnya dapat dimulai dari:
Tentukan target audience
↓
Bangun identitas brand
↓
Tentukan pesan
↓
Pilih media yang relevan
↓
Bangun awareness
↓
Dorong trial dan conversion
↓
Ukur hasil
Tidak ada satu media yang selalu paling efektif untuk semua bisnis. Media yang tepat adalah media yang mampu mempertemukan brand dengan target audience pada tempat dan momen yang relevan.
Untuk bisnis baru, yang terpenting bukan sekadar membuat orang membeli untuk pertama kali, tetapi mulai membuat mereka mengenal, mengingat, dan percaya pada brand.