Ramadan adalah musim belanja terbesar di Indonesia. Setiap tahun, ribuan brand berlomba-lomba mencuri perhatian konsumen. Agar tidak tenggelam dalam kebisingan iklan, Anda memerlukan strategi pemasaran yang tidak hanya mengandalkan diskon, tetapi juga kreativitas dan ketepatan momentum.
Berdasarkan tren data perilaku konsumen terbaru, berikut adalah 7 strategi pemasaran Ramadan 2026 yang memiliki potensi konversi tinggi:
1. Gunakan Teaser “Menanti Hilal” (Fase Pre-Ramadan)
Jangan memulai campaign tepat di hari pertama puasa. Mulailah 10-14 hari sebelumnya (fase awareness).
Taktik: Gunakan media OOH atau media sosial untuk menyebarkan pesan antisipasi. Fokus pada persiapan mental dan fisik menyambut bulan suci.
Tujuan: Membangun top-of-mind agar saat konsumen mulai berbelanja kebutuhan puasa, brand Anda adalah yang pertama diingat.
2. Strategi “Ngabuburit” Marketing
Pukul 15.00 hingga 18.00 adalah waktu dengan engagement tertinggi. Masyarakat aktif di jalan raya (OOH) dan aktif di genggaman (Media Sosial).
Taktik: Sinkronkan konten media sosial Anda dengan papan iklan di jalan. Gunakan pesan yang bersifat menghibur atau informatif untuk menemani waktu tunggu berbuka.
3. Personalisasi Hampers dan Paket Bundling
Ramadan identik dengan memberi. Paket bundling produk (buy 1 get 1 atau paket hampers) memiliki volume pencarian yang sangat tinggi di Google setiap tahunnya.
Menurut data Ramadan Insights by Google, pencarian untuk “Hampers Lebaran” mulai naik signifikan pada minggu kedua Ramadan.
4. Pemanfaatan User-Generated Content (UGC)
Konsumen lebih percaya pada ulasan sesama pengguna daripada iklan brand.
Taktik: Buat kompetisi foto atau video bertema “Momen Berbuka bersama [Nama Brand]”. Ini akan menciptakan snowball effect secara organik di media sosial.
5. Iklan Luar Ruang (OOH) di Jalur Strategis
Meskipun dunia semakin digital, OOH tetap menjadi media paling efektif untuk menjangkau pemudik.
Riset OOH Consumer Action – Nielsen & OAAA menunjukkan bahwa 80% konsumen melakukan tindakan (mencari di HP atau membeli) setelah melihat iklan OOH yang relevan.
6. Optimasi Pencairan THR (Week 3 & 4)
Minggu ketiga Ramadan adalah periode “panas” karena pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Ini adalah saat di mana psikologi belanja berubah dari kebutuhan menjadi keinginan (want).
Taktik: Luncurkan promo eksklusif atau produk edisi terbatas hanya di minggu ini untuk menciptakan efek kelangkaan (scarcity).
7. Emotional Storytelling: Kekuatan Tradisi
Ramadan adalah tentang kembali ke akar dan keluarga. Campaign yang sukses biasanya mengangkat tema kepulangan, pengampunan, atau tradisi lokal.
Contoh: Campaign iklan sirup yang ikonik setiap tahun sukses karena konsisten menggunakan narasi kehangatan keluarga.
Kesimpulan
Kunci dari strategi pemasaran Ramadan 2026 adalah relevansi. Brand yang mampu hadir di saat audiens sedang sahur, menemani mereka saat macet di jalan melalui OOH, dan menyentuh hati mereka dengan cerita keluarga, akan menjadi pemenang di pasar yang kompetitif ini.
