Cara Menentukan Marketing Budget untuk Bisnis

Daftar Isi
    Add a header to begin generating the table of contents
    Scroll to Top

    Marketing membutuhkan biaya. Mulai dari membuat konten, membayar iklan, menggunakan jasa agency, mengadakan event, hingga memasang media advertising, semuanya membutuhkan budget.

    Masalahnya, menentukan marketing budget tidak selalu mudah.

    Terlalu kecil, aktivitas marketing bisa sulit menghasilkan dampak yang diharapkan. Terlalu besar tanpa perencanaan juga dapat membuat biaya marketing tidak efisien.

    Karena itu, bisnis perlu menentukan budget berdasarkan tujuan dan kondisi bisnis, bukan sekadar mengikuti angka yang digunakan perusahaan lain.

    Apa Itu Marketing Budget?

    Marketing budget adalah jumlah dana yang dialokasikan bisnis untuk menjalankan aktivitas pemasaran dalam periode tertentu.

    Budget dapat mencakup berbagai kebutuhan, seperti:

    • Advertising
    • Social media
    • Content marketing
    • SEO
    • Digital marketing
    • Event dan activation
    • Public relations
    • Influencer marketing
    • OOH advertising
    • Marketing tools
    • Agency atau vendor
    • Riset pasar

    Marketing budget bisa dibuat untuk satu campaign, satu kuartal, atau satu tahun.

    Berapa Persen Revenue yang Sebaiknya Dialokasikan untuk Marketing?

    Tidak ada satu persentase yang berlaku untuk semua bisnis.

    Besarnya marketing budget dipengaruhi oleh industri, tahap pertumbuhan bisnis, target revenue, margin, tingkat persaingan, customer acquisition cost, dan strategi yang digunakan.

    Bisnis baru yang sedang membangun awareness mungkin membutuhkan investasi marketing yang berbeda dengan bisnis yang sudah memiliki basis pelanggan kuat.

    Karena itu, menggunakan angka persentase revenue hanya sebagai titik awal belum cukup. Budget perlu dikaitkan dengan apa yang ingin dicapai.

    Cara Menentukan Marketing Budget

    Berikut beberapa langkah yang dapat digunakan untuk menyusun marketing budget.

    1. Tentukan Tujuan Marketing

    Mulai dari objective, bukan dari budget.

    Tanyakan:

    Apa yang ingin dicapai melalui marketing?

    Misalnya:

    • Meningkatkan brand awareness
    • Mendapatkan leads
    • Meningkatkan penjualan
    • Meluncurkan produk baru
    • Memasuki wilayah baru
    • Mendapatkan pelanggan baru
    • Meningkatkan customer retention

    Objective yang berbeda membutuhkan kebutuhan budget yang berbeda.

    Campaign untuk meningkatkan awareness, misalnya, bisa membutuhkan investasi reach dan frequency. Sementara campaign lead generation mungkin lebih fokus pada traffic, conversion, dan optimasi biaya per lead.

    2. Lihat Kondisi Keuangan Bisnis

    Marketing budget harus tetap sesuai dengan kemampuan bisnis.

    Perhatikan:

    • Revenue
    • Gross margin
    • Cash flow
    • Profit
    • Operating expenses
    • Target pertumbuhan

    Jangan menentukan budget marketing hanya karena kompetitor mengeluarkan budget besar.

    Yang penting adalah apakah bisnis mampu membiayai aktivitas tersebut dan memiliki ruang untuk mengevaluasi hasilnya.

    3. Gunakan Data Historis

    Jika bisnis sudah pernah menjalankan marketing, data sebelumnya sangat berguna.

    Misalnya:

    Budget Rp50 juta menghasilkan 500 leads.

    Dari sini, bisnis memiliki gambaran awal mengenai biaya per lead.

    BACA :  Cara Membuat Pesan Visual yang Mudah Dipahami

    Namun, jangan langsung menganggap angka tersebut akan selalu sama. Performa dapat berubah karena kompetisi, audience, creative, seasonality, channel, dan kondisi pasar.

    Data historis sebaiknya digunakan sebagai baseline, bukan sebagai jaminan performa berikutnya.

    4. Tentukan Target yang Ingin Dicapai

    Budget akan lebih mudah dihitung jika targetnya jelas.

    Misalnya bisnis ingin mendapatkan:

    1.000 qualified leads dalam satu tahun.

    Jika berdasarkan data sebelumnya biaya rata-rata per qualified lead berada di sekitar Rp100.000, estimasi awal budget untuk acquisition dapat dihitung:

    1.000 × Rp100.000 = Rp100 juta

    Angka tersebut masih berupa estimasi.

    Bisnis tetap perlu memperhitungkan biaya creative, tools, agency, landing page, testing, dan aktivitas marketing lainnya.

    5. Hitung Berdasarkan Customer Acquisition Cost

    Untuk bisnis yang fokus mendapatkan pelanggan baru, Customer Acquisition Cost (CAC) dapat menjadi salah satu pertimbangan.

    CAC menggambarkan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelanggan baru.

    Secara sederhana:

    CAC = Total biaya acquisition ÷ Jumlah pelanggan baru

    Misalnya bisnis mengeluarkan Rp100 juta untuk aktivitas acquisition dan mendapatkan 500 pelanggan baru.

    CAC-nya adalah:

    Rp100 juta ÷ 500 = Rp200.000 per pelanggan

    Angka tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan budget berikutnya.

    Namun, CAC sebaiknya tidak dilihat sendirian. Bandingkan juga dengan nilai pelanggan dan margin yang dihasilkan.

    6. Pertimbangkan Customer Lifetime Value

    Pelanggan yang melakukan pembelian berulang memiliki nilai yang berbeda dengan pelanggan yang hanya melakukan satu transaksi.

    Karena itu, marketing budget dapat dianalisis bersama Customer Lifetime Value (CLV).

    Misalnya:

    CAC: Rp200.000

    CLV: Rp1.000.000

    Secara sederhana, biaya mendapatkan pelanggan perlu dilihat bersama potensi nilai yang dapat diberikan pelanggan selama hubungan dengan bisnis.

    Ini membantu bisnis melihat marketing sebagai investasi customer acquisition, bukan sekadar biaya.

    7. Tentukan Channel yang Digunakan

    Setelah target dan estimasi budget diketahui, tentukan channel yang akan digunakan.

    Misalnya:

    ChannelFungsi
    SEOOrganic acquisition
    Social MediaAwareness dan engagement
    Digital AdsReach dan conversion
    EmailNurturing dan retention
    OOHAwareness dan visibility
    EventEngagement
    InfluencerAwareness dan consideration

    Setiap channel memiliki biaya dan karakteristik yang berbeda.

    Jangan membagi budget sama rata hanya agar semua channel mendapatkan bagian.

    Alokasi sebaiknya mengikuti peran channel terhadap objective.

    8. Bedakan Brand Building dan Performance Marketing

    Marketing budget sebaiknya tidak hanya diarahkan pada aktivitas yang menghasilkan conversion dalam waktu singkat.

    BACA :  Growth Marketing vs Digital Marketing

    Ada aktivitas yang berfungsi membangun brand dalam jangka lebih panjang.

    Misalnya:

    Brand building:

    • OOH
    • Video advertising
    • Content
    • Event
    • Sponsorship
    • PR

    Performance marketing:

    • Search Ads
    • Social Ads
    • Retargeting
    • Conversion campaign
    • Lead generation

    Pembagian tersebut tidak selalu mutlak. Sebuah channel dapat memiliki fungsi yang berbeda tergantung bagaimana campaign dirancang.

    Yang penting, budget mempertimbangkan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.

    Contoh Pembagian Marketing Budget

    Misalnya sebuah bisnis memiliki marketing budget Rp200 juta untuk satu tahun.

    Salah satu contoh pembagiannya:

    AktivitasPersentaseBudget
    Digital Advertising30%Rp60 juta
    Content & SEO20%Rp40 juta
    Social Media15%Rp30 juta
    OOH Advertising20%Rp40 juta
    Event & Activation10%Rp20 juta
    Testing5%Rp10 juta
    Total100%Rp200 juta

    Pembagian ini hanya contoh.

    Bisnis dengan objective lead generation mungkin mengalokasikan budget lebih besar untuk performance marketing. Sementara brand yang sedang memasuki pasar baru mungkin membutuhkan investasi awareness yang lebih besar.

    Sisihkan Budget untuk Testing

    Jangan menghabiskan seluruh budget berdasarkan asumsi awal.

    Sisihkan sebagian dana untuk melakukan eksperimen.

    Misalnya menguji:

    • Creative
    • Audience
    • Offer
    • Landing page
    • Keyword
    • Channel
    • Format iklan
    • Lokasi media

    Hasil testing dapat digunakan untuk menentukan aktivitas mana yang perlu mendapatkan budget lebih besar.

    Dengan pendekatan ini, budget marketing tidak hanya digunakan untuk menjalankan rencana awal, tetapi juga untuk menemukan peluang optimasi.

    Marketing Budget untuk Bisnis Baru

    Bisnis baru biasanya menghadapi tantangan yang berbeda.

    Brand belum memiliki banyak data historis sehingga lebih sulit memperkirakan CAC, conversion rate, atau channel yang paling efektif.

    Karena itu, pendekatan yang dapat digunakan adalah:

    Tetapkan objective → buat estimasi → lakukan testing → ukur hasil → optimasi → scale

    Jangan langsung menghabiskan budget besar sebelum mengetahui respons pasar.

    Namun, budget yang terlalu kecil juga dapat membuat data yang diperoleh tidak cukup untuk mengambil keputusan.

    Kuncinya adalah menentukan skala testing yang sesuai dengan kemampuan bisnis.

    Marketing Budget untuk Bisnis yang Sudah Berjalan

    Bisnis yang sudah memiliki data dapat menggunakan pendekatan yang lebih berbasis performa.

    Lihat:

    • CAC sebelumnya
    • Conversion rate
    • Revenue per customer
    • CLV
    • Channel performance
    • Seasonal trends
    • Historical sales
    • Cost per lead

    Kemudian buat beberapa skenario.

    Skenario Konservatif

    Budget relatif kecil dengan target pertumbuhan yang lebih terkontrol.

    Skenario Growth

    Budget lebih besar untuk mengejar pertumbuhan dengan tetap mempertimbangkan efisiensi.

    BACA :  Raih Eksposur Tinggi dengan Pasang Iklan di Kereta Api

    Skenario Expansion

    Budget diarahkan untuk membuka market, produk, atau wilayah baru.

    Membuat beberapa skenario membantu manajemen memahami konsekuensi dari setiap tingkat investasi.

    Jangan Mengukur Marketing Budget dari Revenue Saja

    Misalnya bisnis mengeluarkan Rp100 juta dan menghasilkan revenue Rp200 juta.

    Angka tersebut belum otomatis menjelaskan apakah campaign menguntungkan.

    Perlu dilihat juga:

    • Gross margin
    • Biaya operasional
    • CAC
    • CLV
    • Attribution
    • Incremental revenue
    • Biaya channel lainnya

    Revenue dan profit adalah hal yang berbeda.

    Karena itu, evaluasi budget marketing perlu melihat konteks bisnis secara keseluruhan.

    Bagaimana Cara Mengevaluasi Marketing Budget?

    Evaluasi dapat dilakukan secara berkala, misalnya setiap bulan atau kuartal.

    Bandingkan:

    Budget Planned vs Budget Actual

    Kemudian lihat:

    Target vs Actual Result

    Setelah itu, cari tahu penyebab perbedaannya.

    Misalnya budget digital advertising terserap 90%, tetapi leads hanya mencapai 60% dari target.

    Pertanyaannya bukan hanya “kenapa budget habis?”

    Cari tahu apakah masalahnya berasal dari:

    • Target audience
    • Creative
    • Offer
    • Landing page
    • Conversion rate
    • Channel
    • Sales follow-up
    • Market condition

    Dari sini, keputusan budget berikutnya dapat dibuat berdasarkan data.

    Kesalahan dalam Menentukan Marketing Budget

    Mengikuti Budget Kompetitor

    Budget kompetitor belum tentu sesuai dengan kondisi bisnis sendiri.

    Hanya Menggunakan Persentase Revenue

    Persentase revenue dapat menjadi referensi, tetapi belum cukup untuk menentukan budget berdasarkan kebutuhan campaign.

    Tidak Memiliki Objective

    Sulit menentukan apakah budget cukup jika tidak jelas apa yang ingin dicapai.

    Menghabiskan Budget Secara Merata

    Tidak semua channel memiliki kontribusi yang sama.

    Tidak Menyediakan Budget Testing

    Tanpa testing, bisnis bisa terjebak menjalankan strategi berdasarkan asumsi.

    Hanya Melihat Revenue

    Revenue tidak selalu menunjukkan profitabilitas campaign.

    Tidak Melakukan Evaluasi

    Budget tahun ini seharusnya memberikan insight untuk perencanaan budget berikutnya.

    Marketing Budget Harus Mengikuti Strategi

    Marketing budget bukan angka yang berdiri sendiri.

    Hubungannya dapat digambarkan seperti:

    Business Goal → Marketing Objective → Strategy → Channel → Budget → KPI → Evaluation

    Jika objective berubah, strategi mungkin berubah. Ketika strategi berubah, kebutuhan channel dan budget juga dapat berubah.

    Karena itu, menentukan budget sebaiknya dilakukan setelah bisnis memahami apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya.

    Cara menentukan marketing budget untuk bisnis tidak cukup hanya dengan menentukan persentase tertentu dari revenue.

    Budget sebaiknya disusun dengan mempertimbangkan business goal, marketing objective, kondisi keuangan, data historis, target acquisition, CAC, CLV, channel, serta kebutuhan testing.

    Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua bisnis.

    Yang lebih penting adalah memastikan setiap rupiah yang dialokasikan memiliki tujuan yang jelas dan dapat dievaluasi.

    Marketing budget yang baik juga bukan budget yang selalu paling besar. Yang penting adalah apakah investasi tersebut sesuai dengan kemampuan bisnis, mendukung strategi, dan menghasilkan data yang dapat digunakan untuk membuat keputusan marketing berikutnya.

    Scroll to Top