Sebuah iklan bisa saja memiliki desain yang menarik, tetapi belum tentu pesannya mudah dipahami.
Dalam advertising, visual bukan hanya soal membuat materi terlihat bagus. Visual harus mampu menyampaikan pesan kepada audience dengan cepat.
Hal ini semakin penting ketika iklan ditampilkan pada media yang memiliki waktu exposure singkat, seperti billboard, videotron, transit advertising, atau digital ads.
Audience mungkin hanya melihat iklan selama beberapa detik. Jika mereka membutuhkan waktu terlalu lama untuk memahami maksudnya, kemungkinan besar pesan tersebut akan terlewat.
Karena itu, pesan visual perlu dibuat singkat, jelas, relevan, dan mudah dikenali.
1. Tentukan Satu Pesan Utama
Kesalahan yang sering terjadi dalam membuat materi iklan adalah mencoba memasukkan terlalu banyak informasi.
Satu visual berisi:
- Nama produk.
- Banyak fitur.
- Harga.
- Promo.
- Alamat.
- Nomor telepon.
- Website.
- Media sosial.
- Berbagai tagline.
Akibatnya, tidak ada satu pesan yang benar-benar menonjol.
Sebelum membuat desain, tentukan:
“Apa satu hal yang paling ingin audience ingat setelah melihat iklan ini?”
Itulah pesan utama yang harus mendapatkan perhatian terbesar.
2. Gunakan Headline yang Singkat
Headline menjadi salah satu elemen pertama yang dilihat audience.
Semakin panjang headline, semakin besar usaha yang dibutuhkan untuk membacanya.
Bandingkan:
“Nikmati Berbagai Pilihan Produk Berkualitas dengan Harga Terbaik untuk Memenuhi Kebutuhan Anda.”
dengan:
“Kualitas Lebih, Harga Tetap.”
Pesan kedua lebih mudah diproses karena langsung menuju inti.
Bukan berarti semua headline harus sangat pendek. Namun, setiap kata harus memiliki fungsi.
3. Pastikan Visual Mendukung Pesan
Visual dan copy harus bekerja sebagai satu kesatuan.
Jangan sampai visual mengatakan satu hal, tetapi headline mengatakan hal yang berbeda.
Misalnya campaign otomotif ingin menonjolkan performa kendaraan.
Visual dapat menunjukkan mobil sedang melaju, sementara headline memperkuat pesan:
“Siap Melaju Lebih Jauh.”
Visual memberikan konteks, sementara headline memberikan makna.
Ketika keduanya saling mendukung, audience tidak perlu menebak-nebak maksud iklan.
4. Gunakan Hierarki Visual
Tidak semua elemen dalam desain harus memiliki ukuran dan tingkat perhatian yang sama.
Tentukan urutan informasi.
Misalnya:
1. Headline
Pesan utama.
2. Visual
Menarik perhatian dan memberikan konteks.
3. Brand
Menunjukkan siapa yang menyampaikan pesan.
4. CTA
Memberikan arahan tindakan.
Dengan hierarki yang jelas, mata audience lebih mudah mengikuti informasi.
5. Jangan Takut Menggunakan Ruang Kosong
Desain yang penuh belum tentu lebih informatif.
Terlalu banyak elemen justru dapat membuat visual terasa sesak dan sulit dipahami.
Ruang kosong atau white space membantu memberikan “napas” di antara elemen.
Terutama pada media seperti billboard, ruang kosong dapat membantu headline dan visual utama terlihat lebih menonjol.
Kadang, mengurangi elemen justru membuat pesan lebih kuat.
6. Pilih Font yang Mudah Dibaca
Font yang menarik belum tentu cocok untuk advertising.
Pertimbangkan keterbacaan, terutama jika iklan akan dilihat dari jarak jauh.
Hindari penggunaan:
- Font terlalu tipis.
- Font terlalu dekoratif.
- Terlalu banyak jenis font.
- Ukuran teks terlalu kecil.
- Kontras rendah antara teks dan background.
Untuk billboard dan media OOH, keterbacaan menjadi semakin penting karena audience tidak berada tepat di depan materi iklan.
7. Gunakan Kontras yang Jelas
Teks harus mudah dibedakan dari background.
Jika warna teks terlalu mirip dengan background, audience akan kesulitan membaca pesan.
Kontras dapat digunakan pada:
- Warna.
- Ukuran.
- Ketebalan font.
- Posisi.
- Bentuk.
- Ruang kosong.
Tujuannya bukan membuat semua elemen terlihat mencolok, tetapi memastikan elemen penting mendapatkan perhatian.
8. Batasi Jumlah Informasi
Tidak semua informasi harus dimasukkan ke dalam satu visual.
Jika audience membutuhkan informasi lebih lengkap, arahkan mereka ke channel lain.
Misalnya billboard cukup berisi:
“Buka Cabang Baru di Bekasi.”
dan:
“Scan untuk lihat lokasinya.”
Informasi detail mengenai produk, harga, atau layanan dapat diberikan melalui website atau landing page.
Dengan begitu, setiap media memiliki peran masing-masing.
9. Buat Brand Mudah Dikenali
Pesan yang mudah dipahami tidak cukup jika audience tidak tahu siapa yang beriklan.
Pastikan identitas brand terlihat dengan jelas melalui:
- Logo.
- Warna brand.
- Produk.
- Tagline.
- Gaya visual.
- Elemen khas brand.
Dalam brand building, konsistensi visual membantu audience mengenali brand ketika mereka menemukannya di berbagai media.
10. Sesuaikan Visual dengan Media
Satu desain tidak selalu cocok digunakan di semua media.
Visual untuk Instagram dapat memiliki informasi yang lebih banyak karena audience dapat berhenti dan membaca.
Sebaliknya, billboard harus dirancang dengan mempertimbangkan audience yang mungkin hanya melihatnya selama beberapa detik.
Karena itu, desain perlu menyesuaikan karakter media.
Billboard
Singkat + besar + mudah dibaca.
Social Media
Visual menarik + informasi lebih detail.
Video
Visual + audio + storytelling.
Website
Informasi lengkap + navigasi + CTA.
Pesan utama dapat tetap konsisten, tetapi eksekusinya disesuaikan dengan media.
11. Gunakan CTA yang Jelas
Jika iklan mengharapkan audience melakukan sesuatu, berikan arahan yang jelas.
Contohnya:
- Kunjungi Sekarang
- Coba Sekarang
- Pesan Sekarang
- Scan untuk Info
- Daftar Sekarang
- Hubungi Kami
CTA tidak harus selalu digunakan, terutama untuk campaign yang murni bertujuan membangun awareness.
Namun jika campaign memiliki objective conversion, audience perlu tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
12. Gunakan Bahasa yang Familiar
Hindari penggunaan istilah yang terlalu rumit jika audience tidak terbiasa dengannya.
Bahasa sederhana biasanya lebih mudah diproses.
Daripada:
“Solusi inovatif terintegrasi untuk meningkatkan optimalisasi performa bisnis.”
lebih baik menjelaskan manfaat secara langsung.
Misalnya:
“Kelola Bisnis Lebih Mudah.”
Pesan yang sederhana bukan berarti kurang profesional.
Justru, kemampuan menyederhanakan pesan menunjukkan bahwa brand memahami apa yang paling penting untuk disampaikan.
13. Tes Visual Sebelum Ditayangkan
Sebelum materi digunakan, lakukan pengecekan sederhana.
Tanyakan kepada orang lain:
“Menurut kamu, iklan ini ngomongin apa?”
Jika mereka membutuhkan penjelasan panjang dari pembuat desain, mungkin pesannya belum cukup jelas.
Untuk media OOH, visual juga dapat diuji dengan melihatnya dari jarak yang berbeda.
Pastikan headline, brand, dan pesan utama tetap terlihat dengan jelas.
14. Gunakan Prinsip “Sekilas Langsung Paham”
Untuk media dengan exposure singkat, gunakan prinsip sederhana:
Sekilas lihat → langsung tahu pesannya.
Misalnya billboard sebuah restoran baru:
Visual: Produk makanan utama.
Headline:
“Sudah Coba?”
Brand: Logo restoran.
CTA:
“5 Menit dari Sini.”
Audience tidak perlu membaca paragraf panjang untuk mengetahui apa yang sedang ditawarkan.
Contoh Struktur Pesan Visual
Salah satu struktur sederhana yang dapat digunakan:
HEADLINE
Pesan utama yang menarik perhatian.
VISUAL
Gambar atau elemen yang memperkuat pesan.
BRAND
Logo atau identitas brand.
CTA
Arahan tindakan jika diperlukan.
Contohnya:
“Saatnya Upgrade.”
Visual produk utama
Logo Brand
“Lihat Selengkapnya”
Struktur ini sederhana, tetapi dapat membantu menjaga fokus visual.
Kesalahan yang Sering Membuat Visual Sulit Dipahami
Terlalu Banyak Teks
Audience tidak punya waktu untuk membaca semuanya.
Terlalu Banyak Visual
Semua elemen berebut perhatian.
Headline Tidak Jelas
Audience melihat iklan tetapi tidak memahami maksudnya.
Brand Terlalu Tersembunyi
Pesan mungkin diingat, tetapi brand-nya tidak.
CTA Tidak Jelas
Audience tertarik tetapi tidak tahu harus melakukan apa.
Desain Tidak Sesuai Media
Materi yang bagus di Instagram belum tentu efektif ketika dipasang di billboard.
Kesimpulan
Pesan visual yang efektif bukan yang paling ramai, tetapi yang paling mudah dipahami.
Untuk membuat visual advertising yang jelas, perhatikan:
- Tentukan satu pesan utama.
- Gunakan headline yang singkat.
- Pastikan visual mendukung pesan.
- Buat hierarki visual.
- Gunakan ruang kosong.
- Pilih font yang mudah dibaca.
- Gunakan kontras yang jelas.
- Batasi informasi.
- Tampilkan identitas brand.
- Sesuaikan desain dengan media.
- Gunakan CTA yang relevan.
- Pilih bahasa yang familiar.
- Lakukan pengujian sebelum tayang.
Terutama pada media seperti billboard dan OOH, audience tidak datang untuk membaca iklan. Mereka sedang berkendara, berjalan, menunggu transportasi, atau melakukan aktivitas lainnya.
Karena itu, tugas visual advertising bukan membuat audience berhenti untuk membaca, tetapi membuat mereka langsung memahami pesan ketika melihatnya.