Berapa persen dari pendapatan bisnis yang sebaiknya dialokasikan untuk marketing?
Pertanyaan ini sering muncul ketika bisnis mulai menyusun anggaran tahunan atau merencanakan campaign baru. Ada yang menggunakan angka 5%, 10%, bahkan lebih dari 15% dari pendapatan.
Namun, tidak ada satu persentase yang otomatis ideal untuk semua bisnis.
Bisnis baru, brand yang sedang ekspansi, dan perusahaan yang sudah memiliki market share besar tentu memiliki kebutuhan marketing yang berbeda.
Karena itu, persentase budget marketing sebaiknya ditentukan berdasarkan kondisi dan tujuan bisnis, bukan hanya mengikuti angka yang digunakan perusahaan lain.
1. Apakah 5% Budget Marketing Sudah Ideal?
Angka 5% sering digunakan sebagai titik awal ketika bisnis ingin membuat perkiraan budget marketing.
Misalnya, bisnis memiliki pendapatan Rp1 miliar per bulan. Jika 5% dialokasikan untuk marketing, maka budget yang tersedia adalah Rp50 juta per bulan.
Namun, angka tersebut belum tentu cukup atau justru terlalu besar.
Jika bisnis sedang agresif melakukan ekspansi, Rp50 juta mungkin terlalu kecil untuk mencapai target awareness yang diinginkan.
Sebaliknya, jika bisnis sudah memiliki pelanggan loyal dan sebagian besar penjualan berasal dari repeat order, budget tersebut mungkin sudah cukup.
Jadi, 5% dapat menjadi starting point, tetapi bukan angka yang wajib diikuti.
2. Bisnis Baru Bisa Membutuhkan Budget Lebih Besar
Brand yang baru memasuki pasar biasanya memiliki tantangan yang lebih besar.
Konsumen belum mengenal brand, belum memiliki pengalaman menggunakan produk, dan belum memiliki alasan untuk memilihnya dibandingkan kompetitor.
Karena itu, bisnis baru mungkin perlu mengalokasikan budget marketing lebih agresif untuk membangun awareness dan mendapatkan pelanggan.
Budget tersebut dapat digunakan untuk berbagai aktivitas seperti:
- Branding
- Content marketing
- Digital advertising
- Social media
- Search advertising
- Public relations
- Event
- Media luar ruang
Tujuannya adalah mempercepat proses agar target pasar mulai mengenal dan mempertimbangkan brand.
3. Brand yang Sedang Ekspansi Juga Membutuhkan Budget Besar
Kebutuhan marketing dapat meningkat ketika bisnis memasuki wilayah atau pasar baru.
Misalnya, sebuah brand yang sebelumnya hanya dikenal di Jakarta ingin memperluas pasar ke Bandung, Surabaya, atau kota lainnya.
Brand perlu membangun awareness dari awal di wilayah tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, budget marketing tidak hanya digunakan untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada, tetapi juga untuk memperkenalkan brand kepada audience baru.
Media dengan jangkauan lokal seperti billboard, videotron, transport advertising, digital advertising, dan event dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.
4. Bisnis yang Sudah Stabil Tidak Selalu Membutuhkan Budget Besar
Bisnis yang sudah memiliki brand awareness tinggi belum tentu harus terus meningkatkan budget marketing secara signifikan.
Namun, bukan berarti marketing bisa dihentikan.
Brand tetap perlu menjaga visibility agar tidak kehilangan perhatian konsumen dan memberi ruang kepada kompetitor untuk mengambil posisi.
Budget dapat lebih diarahkan pada aktivitas yang menjaga brand tetap relevan, mempertahankan pelanggan, serta mendukung produk atau campaign tertentu.
5. Tentukan Budget Berdasarkan Target Pertumbuhan
Salah satu cara yang lebih masuk akal adalah menentukan budget berdasarkan target bisnis.
Misalnya, sebuah bisnis memiliki pendapatan Rp10 miliar per tahun dan menargetkan pertumbuhan 20% pada tahun berikutnya.
Target tersebut membutuhkan strategi untuk mendapatkan tambahan pelanggan, meningkatkan transaksi, atau memperluas pasar.
Jika target pertumbuhan semakin agresif, kebutuhan investasi marketing juga dapat meningkat.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Berapa persen budget marketing yang ideal?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Berapa investasi marketing yang dibutuhkan untuk mencapai target bisnis?”
6. Bedakan Marketing Budget dan Advertising Budget
Hal ini sering membingungkan ketika bisnis membuat anggaran.
Budget marketing tidak selalu sama dengan budget iklan.
Marketing dapat mencakup berbagai aktivitas, seperti:
- Advertising
- SEO
- Social media
- Content production
- Website
- Event
- Public relations
- Marketing tools
- Riset pasar
- Agency atau tenaga profesional
Sementara advertising merupakan salah satu bagian dari keseluruhan aktivitas tersebut.
Jadi, jika bisnis menetapkan budget marketing Rp100 juta, bukan berarti seluruhnya harus digunakan untuk membeli media iklan.
7. Gunakan Data untuk Menilai Apakah Budget Sudah Tepat
Persentase budget saja tidak cukup untuk menentukan apakah marketing sudah efisien.
Bisnis perlu melihat hasil yang diperoleh dari investasi tersebut.
Beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain:
| Metrik | Kegunaan |
|---|---|
| Revenue | Melihat pendapatan yang dihasilkan |
| Conversion Rate | Mengukur persentase calon pelanggan yang menjadi pelanggan |
| CAC | Mengukur biaya mendapatkan pelanggan |
| ROAS | Mengukur hasil dari advertising spend |
| Leads | Mengukur jumlah calon pelanggan |
| Brand Awareness | Melihat perkembangan pengenalan brand |
Misalnya, budget marketing meningkat dari Rp50 juta menjadi Rp75 juta.
Kenaikan budget tersebut tidak otomatis buruk jika menghasilkan pertumbuhan leads, pelanggan, dan revenue yang sebanding atau lebih besar.
Sebaliknya, budget yang kecil juga belum tentu efisien jika tidak menghasilkan dampak yang berarti.
8. Jangan Menentukan Budget Hanya Berdasarkan Kompetitor
Melihat aktivitas marketing kompetitor memang penting.
Namun, jangan menentukan budget hanya karena kompetitor terlihat memasang lebih banyak billboard, menjalankan lebih banyak iklan digital, atau membuat campaign yang lebih besar.
Kondisi finansial, target pasar, margin, dan target pertumbuhan setiap bisnis berbeda.
Strategi kompetitor sebaiknya digunakan sebagai benchmark, bukan sebagai patokan mutlak.
9. Sisihkan Budget untuk Eksperimen
Tidak semua budget harus digunakan untuk strategi yang sudah biasa dilakukan.
Sisihkan sebagian untuk mencoba channel atau pendekatan baru.
Misalnya, bisnis selama ini hanya menggunakan digital advertising. Sebagian budget dapat digunakan untuk menguji media OOH di lokasi tertentu.
Atau sebaliknya, brand yang selama ini kuat di media offline dapat menguji digital campaign untuk melihat bagaimana keduanya saling mendukung.
Eksperimen dalam skala terukur dapat membantu bisnis menemukan channel baru yang potensial.
10. Evaluasi Persentase Budget Setiap Tahun
Persentase budget marketing tidak harus selalu sama.
Kondisi bisnis dapat berubah dari tahun ke tahun.
Ketika bisnis sedang melakukan ekspansi, budget mungkin perlu ditingkatkan.
Ketika perusahaan memasuki fase efisiensi, alokasi dapat dikurangi sambil mempertahankan aktivitas yang paling efektif.
Evaluasi sebaiknya mempertimbangkan performa marketing sebelumnya, target pertumbuhan, kondisi pasar, dan strategi bisnis berikutnya.
Jadi, Berapa Persen Budget Marketing yang Ideal?
Tidak ada angka universal yang berlaku untuk semua bisnis.
Sebagai titik awal perencanaan, bisnis dapat membuat beberapa skenario:
| Alokasi | Contoh kondisi |
|---|---|
| 3–5% | Bisnis relatif stabil dan fokus pada efisiensi |
| 5–10% | Bisnis ingin bertumbuh dan memperkuat marketing |
| 10%+ | Brand baru, ekspansi agresif, atau target pertumbuhan tinggi |
Angka tersebut bukan standar wajib. Kebutuhan aktual tetap perlu disesuaikan dengan industri, margin keuntungan, tahap bisnis, tingkat persaingan, dan target pertumbuhan.
Yang lebih penting adalah memastikan setiap rupiah yang dialokasikan memiliki tujuan dan dapat dievaluasi.
Budget marketing yang ideal bukan ditentukan oleh satu angka yang berlaku untuk semua bisnis.
Persentase budget perlu disesuaikan dengan kondisi perusahaan, target pertumbuhan, tahap perkembangan brand, tingkat persaingan, dan strategi marketing yang digunakan.
Untuk membuat perencanaan awal, angka 3–5%, 5–10%, atau 10%+ dapat digunakan sebagai skenario pembanding. Setelah itu, keputusan sebaiknya dibuat berdasarkan kemampuan finansial dan data performa marketing.
Karena pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan “berapa persen yang harus dikeluarkan?”, tetapi “berapa investasi marketing yang dibutuhkan agar bisnis bisa mencapai targetnya?”