Membuat iklan yang menarik saja belum cukup. Iklan juga perlu ditempatkan di media dan waktu yang tepat agar dapat dilihat oleh target audiens.
Di sinilah media buying berperan.
Media buying merupakan proses membeli ruang atau waktu iklan pada berbagai media untuk menayangkan campaign kepada target audiens. Prosesnya tidak hanya berkaitan dengan transaksi pembelian media, tetapi juga mencakup pemilihan placement, negosiasi, penentuan jadwal, hingga memastikan iklan mendapatkan exposure sesuai tujuan campaign.
Apa Itu Media Buying?
Media buying adalah aktivitas membeli atau menempatkan iklan pada media tertentu berdasarkan kebutuhan campaign.
Media yang dibeli dapat berupa:
- Billboard.
- LED videotron.
- Televisi.
- Radio.
- Koran dan majalah.
- Website.
- Search engine.
- Media sosial.
- Transportasi.
- Airport advertising.
Dalam praktiknya, media buying dilakukan setelah brand memahami target audiens dan menentukan strategi media yang akan digunakan.
Apa Tujuan Media Buying?
Tujuan utama media buying adalah mendapatkan placement iklan yang tepat dengan penggunaan anggaran yang efisien.
Media buying membantu brand untuk:
- Menjangkau target audiens.
- Mendapatkan exposure.
- Meningkatkan brand awareness.
- Mendukung campaign promosi.
- Meningkatkan leads atau penjualan.
- Mengoptimalkan penggunaan budget advertising.
Jadi, media buying bukan sekadar membeli ruang iklan, tetapi memastikan ruang tersebut memberikan nilai bagi campaign.
Media Buying vs Media Planning
Kedua istilah ini sering dianggap sama, padahal memiliki fungsi yang berbeda.
Media planning berfokus pada menentukan:
- Siapa target audiens?
- Media apa yang digunakan?
- Di mana iklan ditempatkan?
- Kapan campaign berjalan?
- Berapa besar frekuensi yang dibutuhkan?
Sementara media buying lebih berfokus pada proses mendapatkan placement tersebut.
Sederhananya:
Media planning = menentukan strategi.
Media buying = mendapatkan dan mengelola placement.
Keduanya saling berkaitan dan biasanya berjalan sebagai satu rangkaian dalam perencanaan campaign.
Bagaimana Proses Media Buying?
Secara umum, proses media buying dapat dilakukan melalui beberapa tahap.
Menentukan Tujuan Campaign
Pertama, tentukan tujuan utama campaign.
Apakah untuk:
- Brand awareness?
- Product launch?
- Promosi?
- Lead generation?
- Penjualan?
- Event?
Tujuan tersebut akan menentukan media dan placement yang dibutuhkan.
Menentukan Target Audiens
Selanjutnya, identifikasi target audiens berdasarkan karakteristik seperti:
- Demografi.
- Lokasi.
- Perilaku.
- Minat.
- Kebiasaan.
- Pola perjalanan.
Semakin jelas target audiens, semakin mudah menentukan media yang sesuai.
Memilih Media
Setelah target ditentukan, pilih media yang memiliki potensi menjangkau audiens tersebut.
Misalnya, brand yang ingin menjangkau komuter dapat mempertimbangkan media transportasi seperti KRL, MRT, LRT, atau Transjakarta.
Sementara brand yang ingin mendapatkan jangkauan luas di jalan raya dapat mempertimbangkan billboard atau LED videotron.
Menentukan Placement
Tidak semua placement dalam satu media memiliki nilai yang sama.
Pada OOH, misalnya, perbedaan lokasi dapat memengaruhi:
- Traffic.
- Visibility.
- Arah pandang.
- Kecepatan kendaraan.
- Karakter audiens.
- Frekuensi paparan.
Karena itu, pemilihan lokasi merupakan bagian penting dari media buying.
Negosiasi dan Pembelian Media
Setelah placement dipilih, proses berikutnya adalah melakukan negosiasi mengenai:
- Harga.
- Durasi.
- Periode tayang.
- Jumlah titik.
- Format media.
- Produksi.
- Ketentuan pemasangan.
Setelah kesepakatan tercapai, media dapat dijadwalkan untuk campaign.
Monitoring Campaign
Media buying tidak berhenti setelah placement berhasil dibeli.
Campaign tetap perlu dipantau untuk memastikan iklan:
- Tayang sesuai jadwal.
- Berada di lokasi yang disepakati.
- Menggunakan materi yang benar.
- Memiliki kondisi visual yang sesuai.
- Mendapatkan exposure sesuai perencanaan.
Apa Itu Media Buying dalam OOH?
Dalam Out-of-Home (OOH) advertising, media buying berarti membeli ruang iklan pada berbagai media yang berada di ruang publik.
Contohnya:
- Billboard.
- JPO.
- LED videotron.
- KRL.
- MRT.
- LRT.
- Transjakarta.
- Airport.
- Rest area.
- Mobile LED.
Salah satu karakteristik OOH adalah placement sangat bergantung pada lokasi. Karena itu, media buying OOH membutuhkan pemahaman terhadap karakter setiap titik media.
Mengapa Lokasi Penting dalam Media Buying OOH?
Membeli billboard dengan ukuran besar tidak otomatis menghasilkan campaign yang efektif.
Sebuah billboard perlu dipertimbangkan berdasarkan:
Visibility
Apakah iklan mudah terlihat?
Traffic
Berapa banyak kendaraan atau orang yang melewati lokasi?
Audience
Apakah orang yang melewati lokasi sesuai dengan target?
Dwell time
Berapa lama audiens memiliki kesempatan melihat iklan?
Frequency
Seberapa sering audiens berpotensi melihat iklan?
Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, budget dapat dialokasikan pada placement yang lebih relevan.
Media Buying Tidak Selalu Berarti Memilih Media Termurah
Harga murah bukan berarti placement tersebut paling efektif.
Misalnya, dua billboard memiliki harga berbeda. Billboard pertama lebih murah tetapi berada di lokasi dengan visibility rendah. Billboard kedua lebih mahal tetapi berada di jalur utama dengan traffic tinggi dan target audiens yang lebih sesuai.
Dalam situasi tersebut, billboard kedua belum tentu lebih mahal jika dilihat dari nilai exposure yang diperoleh.
Karena itu, media buying sebaiknya mempertimbangkan value, bukan hanya harga.
Peran Data dalam Media Buying
Keputusan media buying sebaiknya tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Data dapat membantu mengevaluasi:
- Jumlah traffic.
- Profil audiens.
- Performa campaign sebelumnya.
- Biaya media.
- Jangkauan.
- Frekuensi.
- Respons audiens.
Dengan data tersebut, keputusan pembelian media dapat dibuat lebih objektif.
Media Buying dan Efisiensi Budget
Budget advertising biasanya terbatas. Karena itu, salah satu tantangan media buyer adalah mendapatkan exposure yang optimal dari anggaran yang tersedia.
Strateginya dapat berupa:
- Memilih lokasi dengan audience yang relevan.
- Mengatur durasi campaign.
- Menggabungkan beberapa media.
- Menentukan prioritas placement.
- Melakukan negosiasi harga.
- Menghindari placement yang kurang relevan.
Tujuannya bukan sekadar mendapatkan media sebanyak mungkin, tetapi mendapatkan media yang paling sesuai dengan tujuan campaign.
Gabungkan Berbagai Media
Media buying juga dapat dilakukan melalui kombinasi beberapa media.
Contohnya:
Billboard
Untuk membangun jangkauan dan awareness.
Transit advertising
Untuk menjangkau komuter secara berulang.
LED videotron
Untuk memberikan pengalaman visual yang lebih dinamis.
Digital advertising
Untuk menangkap audiens yang sudah menunjukkan ketertarikan.
Dengan kombinasi tersebut, brand dapat membangun exposure di berbagai titik perjalanan konsumen.
Media Buying Bersama Morata Advertising
Morata Advertising menyediakan berbagai pilihan media OOH untuk membantu brand mendapatkan placement yang sesuai dengan tujuan campaign.
Media yang tersedia meliputi:
- Billboard Advertising.
- LED Videotron.
- JPO Advertising.
- MRT Advertising.
- KRL Advertising.
- LRT Advertising.
- Transjakarta Advertising.
- Airport Advertising.
- Rest Area Advertising.
- Mobile LED Advertising.
- Train Branding.
- Transportation Branding.
Dengan dukungan media planning dan pemilihan lokasi strategis, proses media buying dapat disesuaikan dengan target audiens, tujuan campaign, durasi, serta budget yang tersedia.
Media buying adalah proses mendapatkan dan mengelola placement iklan agar campaign dapat menjangkau target audiens secara efektif. Prosesnya mencakup pemilihan media, penentuan lokasi, negosiasi, pembelian, hingga monitoring campaign.
Dalam OOH advertising, media buying memiliki tantangan tersendiri karena nilai sebuah media sangat dipengaruhi oleh lokasi, visibility, traffic, dan karakter audiens.
Karena itu, media buying yang efektif bukan hanya tentang mendapatkan harga terbaik, tetapi tentang mendapatkan placement yang paling tepat untuk mencapai tujuan campaign.