Apa Itu Marketing Channel dan Cara Memilihnya

Daftar Isi
    Add a header to begin generating the table of contents
    Scroll to Top

    Sebuah brand bisa memiliki produk yang bagus, harga yang kompetitif, dan strategi marketing yang matang. Namun, jika pesan tersebut disampaikan melalui channel yang tidak tepat, hasilnya belum tentu maksimal.

    Di sinilah marketing channel memiliki peran penting.

    Marketing channel membantu bisnis menyampaikan pesan kepada target audiens, membangun awareness, mendapatkan calon pelanggan, hingga mendorong terjadinya pembelian. Channel yang digunakan bisa berupa digital maupun offline, dan setiap channel memiliki fungsi yang berbeda.

    Lalu, apa sebenarnya marketing channel dan bagaimana cara memilihnya?

    Apa Itu Marketing Channel?

    Marketing channel adalah media atau jalur yang digunakan bisnis untuk menyampaikan pesan pemasaran kepada target audiens.

    Channel tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari memperkenalkan brand, mengedukasi calon pelanggan, membangun hubungan, sampai mendorong penjualan.

    Contoh marketing channel yang umum digunakan antara lain:

    • Search engine
    • Social media
    • Website
    • Email marketing
    • Digital advertising
    • Influencer marketing
    • Event
    • OOH advertising
    • Media cetak
    • Partnership
    • Marketplace

    Satu bisnis dapat menggunakan beberapa marketing channel sekaligus. Kombinasi tersebut kemudian disesuaikan dengan target audiens dan tujuan campaign.

    Apa Fungsi Marketing Channel?

    Marketing channel bukan hanya tempat untuk memasang iklan.

    Channel dapat memiliki beberapa fungsi dalam marketing, seperti:

    Membangun Awareness

    Channel digunakan untuk memperkenalkan brand atau produk kepada orang yang belum mengenalnya.

    Contohnya social media, video advertising, OOH, sponsorship, dan event.

    Membangun Consideration

    Setelah mengetahui sebuah brand, konsumen biasanya membutuhkan informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

    Website, content marketing, social media, review, dan influencer dapat membantu proses ini.

    Menghasilkan Leads

    Beberapa channel dapat digunakan untuk mendapatkan calon pelanggan secara langsung.

    Contohnya Google Ads, landing page, email marketing, atau lead generation campaign di social media.

    Mendorong Sales

    Channel tertentu dapat membawa konsumen lebih dekat ke transaksi, seperti search advertising, marketplace, website, atau remarketing.

    Mempertahankan Customer

    Marketing juga tidak berhenti setelah konsumen melakukan pembelian.

    Email, CRM, loyalty program, dan social media dapat digunakan untuk menjaga hubungan dengan pelanggan.

    Jenis-Jenis Marketing Channel

    Secara sederhana, marketing channel dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori.

    Digital Marketing Channel

    Channel yang menggunakan platform digital untuk menjangkau audiens.

    Contohnya:

    • SEO
    • Google Ads
    • Social media
    • Email marketing
    • Content marketing
    • Influencer marketing
    • Website
    BACA :  5 Alasan Umbul-Umbul Masih Populer untuk Media Promosi

    Kelebihan channel digital adalah banyak aktivitasnya dapat diukur secara detail, mulai dari traffic hingga conversion.

    Offline Marketing Channel

    Channel yang menggunakan media atau aktivitas di dunia fisik.

    Contohnya:

    • Billboard
    • Transit advertising
    • Event
    • Sponsorship
    • Brosur
    • Media cetak
    • Retail activation

    Channel offline dapat membantu brand mendapatkan exposure di lingkungan tempat target audiens beraktivitas.

    Owned Channel

    Owned channel adalah channel yang dimiliki dan dikendalikan oleh brand.

    Contohnya:

    • Website
    • Blog
    • Email database
    • Social media account
    • Mobile app

    Brand memiliki kontrol yang lebih besar terhadap konten dan pengalaman yang diberikan melalui channel tersebut.

    Paid Channel

    Paid channel adalah channel yang membutuhkan biaya untuk mendapatkan exposure atau distribusi.

    Contohnya:

    • Google Ads
    • Social media advertising
    • Billboard
    • Influencer placement
    • Sponsored content
    • Display advertising

    Earned Channel

    Earned channel adalah exposure yang diperoleh brand tanpa membeli placement secara langsung.

    Contohnya:

    • Media coverage
    • Review pelanggan
    • Word of mouth
    • Organic mention
    • User-generated content

    Ketiga pendekatan tersebut sering digunakan secara bersamaan dalam strategi marketing.

    Bagaimana Cara Memilih Marketing Channel?

    Tidak ada satu marketing channel yang selalu cocok untuk semua bisnis. Pemilihannya perlu melihat beberapa faktor.

    1. Tentukan Marketing Objective

    Ini adalah langkah pertama.

    Apakah campaign bertujuan untuk:

    • Meningkatkan awareness?
    • Mendapatkan leads?
    • Meningkatkan sales?
    • Meluncurkan produk?
    • Memasuki pasar baru?
    • Mempertahankan customer?

    Misalnya, campaign peluncuran brand baru mungkin membutuhkan channel yang mampu menghasilkan reach besar.

    Sementara bisnis yang ingin mendapatkan calon pelanggan dengan intent tinggi mungkin membutuhkan channel yang bisa menangkap demand yang sudah ada.

    2. Kenali Target Audiens

    Channel harus mengikuti kebiasaan target audience.

    Cari tahu:

    • Siapa mereka?
    • Di mana mereka menghabiskan waktu?
    • Bagaimana mereka mencari informasi?
    • Apa yang mereka konsumsi?
    • Bagaimana proses mereka sebelum membeli?

    Misalnya, jika target audience aktif mencari solusi melalui search engine, SEO dan search advertising dapat menjadi bagian penting dari strategi.

    Jika targetnya banyak beraktivitas di ruang publik, media OOH atau transit advertising dapat menjadi salah satu touchpoint yang relevan.

    3. Pahami Customer Journey

    Konsumen biasanya tidak langsung membeli setelah melihat satu pesan.

    Perjalanannya bisa berupa:

    Awareness → Consideration → Conversion → Retention

    BACA :  Apa yang Dimaksud Premium Placement dalam Periklanan?

    Setiap tahap dapat membutuhkan channel yang berbeda.

    Contohnya:

    Awareness: OOH, social media, video advertising

    Consideration: Website, content, review, social media

    Conversion: Search Ads, landing page, marketplace

    Retention: Email, CRM, loyalty program

    Dengan memahami customer journey, brand tidak perlu memaksa satu channel melakukan semua pekerjaan.

    4. Sesuaikan dengan Jenis Produk

    Produk juga memengaruhi pilihan channel.

    Produk dengan proses pembelian panjang, misalnya produk B2B atau properti, biasanya membutuhkan lebih banyak touchpoint untuk edukasi dan consideration.

    Sementara produk dengan keputusan pembelian yang lebih cepat dapat menggunakan channel yang lebih dekat dengan transaksi.

    5. Pertimbangkan Budget

    Setiap channel memiliki kebutuhan biaya yang berbeda.

    Budget bukan hanya soal “channel mana yang paling murah”, tetapi berapa biaya yang dibutuhkan untuk mencapai objective tertentu.

    Misalnya, channel dengan biaya per impression yang rendah belum tentu menjadi pilihan yang tepat jika audiens yang dijangkau tidak relevan.

    6. Lihat Kemampuan Mengukur Hasil

    Pertimbangkan juga bagaimana performa channel akan dievaluasi.

    Untuk campaign digital, beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain:

    • Reach
    • Impressions
    • Clicks
    • CTR
    • Leads
    • Conversion rate
    • Cost per lead
    • CAC
    • Revenue

    Untuk aktivitas branding, metrik seperti reach, frequency, brand lift, engagement, atau perubahan awareness dapat menjadi bagian dari evaluasi.

    Tidak semua channel harus dinilai menggunakan KPI yang sama.

    Apakah Harus Menggunakan Banyak Marketing Channel?

    Tidak selalu.

    Menggunakan banyak channel bukan berarti strategi marketing otomatis lebih baik.

    Yang lebih penting adalah apakah channel tersebut saling mendukung dan memiliki peran yang jelas.

    Misalnya sebuah brand menggunakan:

    OOH → membangun awareness

    Social Media → memperpanjang komunikasi

    SEO → menangkap organic search

    Google Ads → menangkap demand

    Landing Page → mengubah traffic menjadi leads

    Dalam kondisi seperti ini, channel-channel tersebut dapat bekerja sebagai satu ekosistem.

    Sebaliknya, jika sebuah channel tidak memiliki hubungan yang jelas dengan target atau objective, menambah channel justru dapat membuat budget dan sumber daya semakin tersebar.

    Marketing Channel vs Marketing Strategy

    Keduanya sering dianggap sama, padahal berbeda.

    Marketing strategy adalah pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan marketing.

    Sementara marketing channel adalah jalur yang digunakan untuk menjalankan atau menyampaikan strategi tersebut.

    BACA :  Brand Positioning: Pengertian & Cara Menentukannya

    Contohnya:

    Objective: meningkatkan awareness produk baru.

    Strategy: membangun visibility di area dengan konsentrasi target audience tinggi.

    Channel: OOH advertising, social media, dan digital advertising.

    Jadi, channel seharusnya mengikuti strategi, bukan sebaliknya.

    Contoh Pemilihan Marketing Channel

    Misalnya sebuah brand ingin memperkenalkan produk baru di Jakarta.

    Targetnya adalah konsumen urban usia produktif dan objective utamanya adalah meningkatkan awareness sekaligus menghasilkan traffic ke website.

    Brand dapat mempertimbangkan kombinasi:

    Marketing ChannelFungsi
    OOHMembangun visibility
    Social MediaMembangun engagement
    Google AdsMenangkap pencarian terkait produk
    SEO & ContentMemberikan informasi dan menangkap organic traffic
    WebsiteMenjadi destination setelah audiens tertarik

    Dalam contoh ini, setiap channel memiliki fungsi berbeda tetapi mengarah ke objective yang sama.

    Kesalahan Saat Memilih Marketing Channel

    Memilih Channel karena Sedang Tren

    Channel yang populer belum tentu digunakan oleh target audience.

    Hanya Melihat Harga

    Channel dengan biaya lebih rendah belum tentu memberikan value yang lebih besar.

    Menggunakan Channel Tanpa Objective

    Jika tidak jelas apa yang ingin dicapai, sulit menentukan apakah sebuah channel berhasil atau tidak.

    Menggunakan Terlalu Banyak Channel

    Terlalu banyak channel dapat membuat budget, creative, dan sumber daya terbagi terlalu tipis.

    Menggunakan KPI yang Sama untuk Semua Channel

    Campaign awareness dan campaign conversion memiliki tujuan berbeda. Karena itu, cara mengukurnya juga perlu disesuaikan.

    Cara Sederhana Menentukan Marketing Channel

    Jika masih bingung memilih channel, gunakan alur sederhana berikut:

    Tentukan objective

    ↓

    Kenali target audience

    ↓

    Pahami customer journey

    ↓

    Pilih channel yang relevan

    ↓

    Tentukan peran setiap channel

    ↓

    Sesuaikan dengan budget

    ↓

    Tentukan KPI

    ↓

    Evaluasi dan optimalkan

    Dengan proses tersebut, keputusan memilih channel menjadi lebih strategis dan tidak sekadar mengikuti tren.

    Marketing channel adalah jalur yang digunakan brand untuk menyampaikan pesan kepada target audiens dan mendukung pencapaian tujuan marketing.

    Tidak ada satu channel yang selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua bisnis. Pemilihannya perlu mempertimbangkan objective, target audience, customer journey, jenis produk, budget, serta kemampuan mengukur hasil.

    Dalam banyak campaign, kombinasi beberapa channel justru dapat membantu brand menciptakan pengalaman yang lebih konsisten. Namun, setiap channel tetap perlu memiliki peran yang jelas.

    Jadi, pertanyaannya bukan sekadar “channel marketing apa yang paling bagus?”, tetapi “channel mana yang paling relevan dengan target dan tujuan campaign?”

    Scroll to Top