Tidak semua iklan dibuat untuk langsung mendorong konsumen membeli produk. Ada iklan yang tujuan utamanya adalah memberikan informasi agar audiens mengenal, memahami, atau mengetahui sesuatu tentang sebuah produk maupun brand.
Jenis iklan tersebut dikenal sebagai iklan informatif.
Iklan informatif biasanya digunakan ketika brand perlu menjelaskan sesuatu kepada target audience, terutama ketika produk masih baru, memiliki fitur yang belum familiar, atau membutuhkan edukasi sebelum konsumen mengambil keputusan.
Apa Itu Iklan Informatif?
Iklan informatif adalah iklan yang berfokus pada penyampaian informasi kepada target audience mengenai produk, layanan, brand, atau hal tertentu.
Informasi yang disampaikan dapat berupa:
- Produk baru.
- Fitur produk.
- Manfaat produk.
- Cara menggunakan produk.
- Cara mendapatkan produk.
- Perubahan layanan.
- Keunggulan tertentu.
- Informasi mengenai brand.
Tujuan utamanya bukan sekadar membuat audiens membeli, tetapi membantu mereka memahami apa yang ditawarkan.
Ciri-Ciri Iklan Informatif
Ada beberapa karakteristik yang umum ditemukan dalam iklan informatif.
1. Memberikan Informasi yang Jelas
Pesan biasanya menjawab pertanyaan dasar seperti:
Apa produknya?
Apa manfaatnya?
Bagaimana cara menggunakannya?
Di mana mendapatkannya?
Informasi tersebut membantu audiens memahami penawaran brand.
2. Mengutamakan Edukasi
Iklan informatif sering digunakan ketika konsumen belum memahami produk atau kategori tertentu.
Misalnya teknologi baru membutuhkan penjelasan mengenai cara kerja dan manfaatnya.
3. Tidak Selalu Menggunakan Hard Selling
Iklan informatif tidak harus selalu menggunakan:
“Beli Sekarang!”
CTA dapat berupa:
- “Pelajari Lebih Lanjut.”
- “Kunjungi Website.”
- “Cari Tahu Selengkapnya.”
- “Temukan di Toko Terdekat.”
4. Fokus pada Pesan Utama
Walaupun bersifat informatif, bukan berarti semua informasi harus dimasukkan.
Iklan tetap perlu menentukan informasi mana yang paling penting bagi audiens.
Kapan Iklan Informatif Digunakan?
1. Saat Meluncurkan Produk Baru
Ini merupakan salah satu situasi paling umum.
Ketika produk baru masuk pasar, audiens mungkin belum mengetahui:
- Apa produknya.
- Apa manfaatnya.
- Apa yang membedakannya.
- Mengapa mereka membutuhkannya.
Iklan informatif membantu memperkenalkan produk tersebut.
Misalnya:
“Kenalan dengan produk X.”
Kemudian iklan menjelaskan fungsi dan keunggulan utamanya.
2. Saat Produk Memiliki Fitur Baru
Produk yang sudah dikenal pun dapat menggunakan iklan informatif ketika menghadirkan fitur baru.
Misalnya aplikasi menambahkan fitur pembayaran baru.
Campaign dapat menjelaskan:
“Sekarang bayar tagihan lebih mudah dari satu aplikasi.”
Tujuannya adalah membuat pengguna mengetahui perubahan tersebut.
3. Saat Produk Membutuhkan Edukasi
Beberapa produk tidak langsung dipahami hanya dari melihat iklannya.
Contohnya:
- Produk teknologi.
- Layanan finansial.
- Software.
- Produk ramah lingkungan.
- Layanan kesehatan.
- Produk dengan teknologi baru.
Dalam kategori seperti ini, edukasi dapat menjadi bagian penting dari advertising.
4. Saat Memasuki Pasar Baru
Brand yang masuk ke pasar baru mungkin belum dikenal oleh target audience.
Sebelum mendorong penjualan, brand perlu memperkenalkan:
Siapa mereka → Apa yang ditawarkan → Mengapa relevan
Advertising informatif dapat membantu membangun dasar awareness tersebut.
5. Saat Ada Perubahan Produk atau Layanan
Brand juga dapat menggunakan iklan untuk menyampaikan informasi penting.
Misalnya:
- Perubahan kemasan.
- Perubahan nama produk.
- Perubahan lokasi toko.
- Layanan baru.
- Jam operasional baru.
- Perubahan sistem pembayaran.
Dalam kondisi seperti ini, iklan berfungsi sebagai media komunikasi kepada pelanggan.
Contoh Iklan Informatif
Misalnya sebuah brand meluncurkan layanan baru.
Headline
Sekarang, Kirim Paket Lebih Mudah.
Body
Layanan baru dengan fitur pickup dari rumah dan tracking secara real-time.
CTA
Pelajari Selengkapnya.
Iklan tersebut tidak secara agresif meminta audiens membeli. Fokus utamanya adalah memberitahukan adanya layanan baru dan manfaatnya.
Iklan Informatif Tidak Berarti Harus Panjang
Ini merupakan kesalahpahaman yang cukup umum.
Karena tujuannya memberikan informasi, bukan berarti iklan harus berisi paragraf panjang.
Justru, informasi perlu dikemas sesederhana mungkin.
Misalnya:
Sekarang Bisa Bayar Lewat QR.
Sudah cukup informatif jika konteksnya adalah mengumumkan metode pembayaran baru.
Untuk media seperti billboard dan videotron, pendekatan seperti ini sangat penting karena waktu exposure audiens relatif singkat.
Gunakan Informasi yang Paling Relevan
Sebelum membuat iklan, tentukan:
Apa satu hal yang harus diketahui audiens setelah melihat iklan ini?
Jawaban tersebut dapat menjadi inti pesan.
Informasi lainnya bisa disampaikan melalui media yang memiliki ruang lebih panjang, seperti:
- Website.
- Landing page.
- Social media.
- Video.
- Artikel.
Perbedaan Iklan Informatif dan Persuasif
Iklan informatif dan persuasif memiliki tujuan yang berbeda.
| Faktor | Iklan Informatif | Iklan Persuasif |
|---|---|---|
| Fokus | Memberikan informasi | Mempengaruhi pilihan |
| Tujuan | Awareness & understanding | Preference & action |
| Pesan | Menjelaskan | Meyakinkan |
| Contoh | “Kini tersedia fitur X” | “Pilih X karena lebih mudah” |
| CTA | Pelajari lebih lanjut | Beli sekarang |
Namun, sebuah iklan dapat memiliki unsur informatif sekaligus persuasif.
Misalnya:
Baterai 5.000 mAh. Tahan seharian.
“5.000 mAh” merupakan informasi.
“Tahan seharian” merupakan manfaat yang membantu meyakinkan audiens.
Iklan Informatif dalam Campaign
Iklan informatif sering menjadi bagian dari tahap awal campaign.
Misalnya:
Tahap 1 — Awareness
Kenalkan produk.
↓
Tahap 2 — Education
Jelaskan manfaat dan cara kerja.
↓
Tahap 3 — Consideration
Tunjukkan keunggulan dibandingkan alternatif.
↓
Tahap 4 — Conversion
Dorong pembelian.
Tidak semua campaign harus mengikuti urutan tersebut secara kaku. Namun, semakin kompleks sebuah produk, semakin penting memastikan audiens memahami penawarannya sebelum diminta mengambil keputusan.
Media yang Cocok untuk Iklan Informatif
Iklan informatif dapat menggunakan berbagai media.
Digital
- Search Ads.
- Social media.
- Display advertising.
- YouTube.
- Website.
Konvensional
- Televisi.
- Radio.
- Majalah.
- Surat kabar.
OOH
- Billboard.
- Videotron.
- Transit advertising.
- Airport advertising.
- Rest area advertising.
Untuk OOH, informasi sebaiknya tetap dibuat singkat, mudah dibaca, dan cepat dipahami.
Contoh Penggunaan OOH
Misalnya sebuah brand ingin memperkenalkan layanan baru di Jakarta.
Daripada memasukkan semua detail layanan ke billboard, pesan dapat dibuat:
Sekarang Hadir di Jakarta.
Layanan X untuk kebutuhan Y.
Scan untuk Info.
Billboard bertugas membangun awareness dan menyampaikan informasi utama.
Audiens yang ingin mengetahui detail dapat diarahkan ke landing page melalui QR code.
Dengan demikian, setiap media menjalankan fungsi masing-masing.
Kapan Sebaiknya Tidak Menggunakan Iklan Informatif?
Iklan informatif bukan pilihan utama untuk setiap kondisi.
Jika audience sudah sangat mengenal produk dan campaign memiliki tujuan utama mendorong pembelian dalam waktu singkat, pendekatan yang lebih persuasif atau promotional dapat lebih sesuai.
Misalnya:
“Diskon 50% hanya hari ini.”
Pesan tersebut lebih berorientasi pada tindakan daripada edukasi.
Namun, bukan berarti iklan tersebut tidak mengandung informasi. Keduanya bisa saja dikombinasikan sesuai kebutuhan campaign.
Iklan informatif adalah iklan yang berfokus pada memberikan informasi agar audiens mengenal dan memahami produk, layanan, atau brand.
Jenis iklan ini sangat berguna ketika:
- Produk baru diluncurkan.
- Ada fitur baru.
- Produk membutuhkan edukasi.
- Brand memasuki pasar baru.
- Ada perubahan produk atau layanan.
Iklan informatif tidak harus panjang. Yang terpenting adalah informasi yang disampaikan relevan, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakter media yang digunakan.
Pada akhirnya, sebelum mengajak konsumen untuk membeli, terkadang brand perlu memastikan satu hal terlebih dahulu:
Audiens sudah tahu apa yang sebenarnya ditawarkan.