Pernah bertanya mengapa ada brand yang produknya langsung dipercaya meskipun harganya lebih mahal? Atau mengapa konsumen tetap memilih satu brand meskipun banyak pilihan lain yang menawarkan produk serupa?
Salah satu jawabannya adalah brand equity.
Brand equity merupakan nilai yang dimiliki sebuah brand berdasarkan bagaimana konsumen mengenali, mengingat, mempercayai, dan menilai brand tersebut. Semakin kuat brand equity, semakin besar pula nilai sebuah brand di mata konsumennya.
Apa Itu Brand Equity?
Brand equity adalah nilai tambah yang dimiliki sebuah produk atau perusahaan karena kekuatan brand-nya di mata konsumen.
Nilai tersebut tidak hanya berasal dari kualitas produk, tetapi juga dari pengalaman, persepsi, tingkat pengenalan, dan kepercayaan konsumen terhadap brand.
Contohnya, dua produk dengan fungsi dan kualitas yang relatif serupa bisa memiliki harga yang berbeda karena salah satunya memiliki brand yang lebih kuat.
Konsumen mungkin bersedia membayar lebih karena sudah mengenal dan mempercayai brand tersebut.
Dengan kata lain, brand equity membuat sebuah brand memiliki nilai lebih dari sekadar produk atau layanan yang dijualnya.
Apa Saja Komponen Brand Equity?
Brand equity tidak terbentuk dalam satu malam. Ada beberapa elemen yang berperan dalam membangunnya.
1. Brand Awareness
Brand awareness menunjukkan seberapa jauh konsumen mengenal atau mengingat sebuah brand.
Semakin mudah sebuah brand dikenali ketika konsumen melihat nama, logo, warna, atau bahkan kategorinya, semakin kuat awareness yang dimiliki.
Karena itu, meningkatkan frekuensi kemunculan brand di berbagai titik interaksi dengan audience dapat membantu membangun awareness.
2. Brand Association
Brand association adalah berbagai hal yang muncul di benak konsumen ketika mereka memikirkan sebuah brand.
Misalnya, sebuah brand bisa diasosiasikan dengan kualitas premium, harga terjangkau, inovasi, pelayanan cepat, atau gaya hidup tertentu.
Asosiasi tersebut terbentuk dari berbagai pengalaman dan komunikasi yang diterima konsumen.
3. Perceived Quality
Perceived quality adalah bagaimana konsumen menilai kualitas sebuah brand atau produk.
Menariknya, persepsi kualitas tidak hanya terbentuk dari pengalaman menggunakan produk. Komunikasi brand, tampilan, kemasan, pelayanan, hingga cara sebuah brand hadir di ruang publik juga dapat memengaruhi persepsi tersebut.
4. Brand Loyalty
Brand loyalty menunjukkan kecenderungan konsumen untuk terus memilih sebuah brand.
Ketika konsumen sudah memiliki pengalaman positif dan kepercayaan terhadap suatu brand, mereka cenderung tidak mudah berpindah ke kompetitor.
Loyalitas ini menjadi salah satu aset penting karena mempertahankan pelanggan sering kali tidak sama dengan mendapatkan pelanggan baru.
Mengapa Brand Equity Penting?
Brand equity penting karena dapat memberikan berbagai keuntungan bagi bisnis.
Membuat Brand Lebih Mudah Diingat
Brand dengan equity yang kuat cenderung lebih mudah muncul dalam pertimbangan konsumen ketika mereka membutuhkan produk atau layanan tertentu.
Misalnya, ketika seseorang membutuhkan produk dalam kategori tertentu, brand yang sudah familiar bisa menjadi salah satu pilihan pertama yang muncul di pikirannya.
Meningkatkan Kepercayaan Konsumen
Brand yang dikenal dan memiliki reputasi baik biasanya lebih mudah mendapatkan kepercayaan.
Hal ini menjadi semakin penting ketika konsumen harus memilih di antara beberapa produk dengan manfaat yang relatif serupa.
Mendukung Harga yang Lebih Tinggi
Brand equity yang kuat dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menetapkan harga premium.
Konsumen tidak hanya membayar produknya, tetapi juga membayar nilai, pengalaman, dan kepercayaan yang melekat pada brand tersebut.
Membantu Brand Menghadapi Kompetitor
Persaingan tidak selalu dimenangkan oleh brand yang menawarkan harga paling murah.
Brand dengan equity yang kuat memiliki aset berupa awareness, asosiasi positif, dan loyalitas konsumen yang membuatnya lebih sulit digantikan oleh kompetitor.
Bagaimana Cara Membangun Brand Equity?
Membangun brand equity membutuhkan proses yang konsisten.
Brand perlu memastikan produk dan layanan memberikan pengalaman yang baik, sekaligus membangun komunikasi yang konsisten di berbagai channel.
Advertising menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut.
Brand dapat menggunakan berbagai media untuk meningkatkan exposure dan memperkuat pesan yang ingin ditanamkan kepada audience.
Salah satunya adalah Out-of-Home (OOH) advertising.
Billboard, videotron, branding transportasi, hingga berbagai media OOH lainnya memungkinkan brand hadir secara fisik di tengah aktivitas sehari-hari audience.
Ketika exposure dilakukan secara konsisten di lokasi yang relevan, brand memiliki lebih banyak kesempatan untuk dikenali dan diingat.
Namun, tentu saja, keberadaan iklan saja tidak otomatis membuat brand equity menjadi kuat. Pesan, kreativitas, pemilihan media, konsistensi komunikasi, serta pengalaman konsumen tetap menjadi bagian penting dalam membangun persepsi terhadap brand.
Brand Equity Tidak Dibangun dalam Semalam
Brand equity merupakan hasil dari akumulasi berbagai interaksi antara brand dan konsumen.
Mulai dari produk yang digunakan, pelayanan yang diterima, iklan yang dilihat, hingga pengalaman yang dibagikan kepada orang lain dapat ikut membentuk persepsi terhadap sebuah brand.
Karena itu, membangun brand equity membutuhkan konsistensi dan exposure yang berkelanjutan.
Semakin sering konsumen bertemu dengan brand melalui pengalaman dan komunikasi yang positif, semakin besar peluang brand tersebut menjadi familiar, dipercaya, dan akhirnya dipilih.
Pada akhirnya, brand equity bukan sekadar tentang seberapa terkenal sebuah brand, tetapi tentang seberapa bernilai brand tersebut di mata konsumennya.