Dalam dunia advertising, istilah placement sering digunakan ketika membahas penempatan iklan. Namun, placement bukan sekadar soal “iklan dipasang di mana”.
Secara sederhana, placement adalah posisi, lokasi, atau tempat di mana sebuah iklan ditampilkan kepada target audience.
Placement dapat berupa lokasi fisik maupun posisi dalam media digital.
Contohnya:
- Billboard di jalan utama.
- Videotron di pusat kota.
- Iklan di dalam KRL.
- Banner di halaman website.
- Iklan di hasil pencarian Google.
- Video ad sebelum konten YouTube.
- Sponsored post di media sosial.
Pemilihan placement penting karena tempat sebuah iklan muncul dapat memengaruhi siapa yang melihatnya, seberapa sering iklan dilihat, dan bagaimana iklan tersebut diperhatikan.
Apa Itu Ad Placement?
Ad placement adalah penempatan iklan pada media atau channel tertentu agar dapat dilihat oleh target audience.
Misalnya sebuah brand memiliki campaign untuk menjangkau komuter Jakarta.
Agency atau advertiser dapat memilih beberapa placement:
KRL → Stasiun → MRT → Transjakarta
Masing-masing placement memiliki karakter audience dan situasi exposure yang berbeda.
Karena itu, placement merupakan bagian penting dari media planning.
Mengapa Placement Penting dalam Advertising?
Iklan yang bagus belum tentu efektif jika ditempatkan di lokasi yang kurang tepat.
Bayangkan sebuah brand memiliki target mahasiswa, tetapi iklannya ditempatkan di lokasi yang mayoritas audiensnya adalah pekerja kantoran.
Materi iklannya mungkin menarik, tetapi audience fit-nya rendah.
Sebaliknya, placement yang tepat dapat membantu brand mendapatkan exposure dari audiens yang memang relevan.
Karena itu:
Creative yang tepat + Placement yang tepat = peluang campaign yang lebih efektif
Placement Menentukan Siapa yang Melihat Iklan
Setiap lokasi memiliki karakter audiens yang berbeda.
Misalnya:
Kawasan Perkantoran
Berpotensi menjangkau:
- Profesional.
- Pekerja kantoran.
- Business decision maker.
Kawasan Kampus
Berpotensi menjangkau:
- Mahasiswa.
- Dosen.
- Young adults.
Stasiun
Berpotensi menjangkau:
- Komuter.
- Pengguna transportasi umum.
- Pekerja.
- Pelajar.
Bandara
Dapat menjangkau:
- Traveler.
- Business traveler.
- Wisatawan.
- Profesional dengan mobilitas tinggi.
Dengan demikian, memilih placement sebenarnya juga merupakan bagian dari strategi targeting.
Jenis Placement dalam Periklanan
Placement dapat dibedakan berdasarkan media yang digunakan.
1. OOH Placement
Pada Out-of-Home advertising, placement mengacu pada lokasi fisik tempat media berada.
Contohnya:
- Billboard.
- Videotron.
- Pylon.
- Signage.
- JPO.
- Shelter.
- Media transit.
Misalnya bukan sekadar:
“Pasang billboard di Jakarta.”
Tetapi:
“Pasang billboard di jalan utama yang memiliki traffic tinggi dan sesuai dengan mobilitas target audience.”
Lokasi spesifik tersebut merupakan placement.
2. Transit Placement
Placement juga dapat berada pada media transportasi.
Contohnya:
- KRL branding.
- MRT branding.
- LRT branding.
- Transjakarta.
- Bus branding.
- Airport advertising.
Dalam transit advertising, placement dapat mencakup kendaraan, stasiun, interior, exterior, maupun area transit.
3. Digital Ad Placement
Dalam digital advertising, placement dapat berarti posisi iklan di sebuah platform.
Contohnya:
- Search result.
- Website banner.
- Homepage.
- Video pre-roll.
- Feed.
- Stories.
- Reels.
- Display network.
Misalnya sebuah iklan muncul di antara konten pengguna Instagram. Posisi tersebut merupakan bagian dari ad placement.
4. Native Ad Placement
Native advertising menempatkan iklan dengan format yang menyerupai konten di platform tersebut.
Contohnya artikel sponsored content yang ditempatkan di sebuah media online.
Tujuannya agar iklan dapat menyatu dengan pengalaman pengguna.
Placement vs Media, Apa Bedanya?
Keduanya sering dianggap sama, padahal berbeda.
Media adalah saluran atau platform yang digunakan untuk menyampaikan iklan.
Placement adalah posisi atau lokasi spesifik di dalam media tersebut.
Contohnya:
Media: Billboard
Placement: Billboard di lokasi tertentu.
Atau:
Media: Instagram
Placement: Instagram Stories.
Jadi:
Media menjawab “menggunakan apa?”
Placement menjawab “ditampilkan di mana?”
Placement vs Location
Dalam OOH, istilah placement dan location juga sering digunakan secara berdekatan.
Location lebih mengacu pada lokasi fisik.
Placement dapat mencakup lokasi sekaligus posisi penayangan atau titik media yang dipilih.
Misalnya:
Jakarta Selatan = location.
Billboard pada titik tertentu di jalan utama Jakarta Selatan = placement.
Dalam praktik industri, penggunaan istilahnya dapat berbeda tergantung konteks perusahaan atau media yang digunakan.
Bagaimana Menentukan Placement yang Tepat?
Jangan memilih placement hanya karena lokasinya terlihat ramai.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
1. Target Audience
Pertama, cari tahu:
Siapa yang ingin dijangkau?
Jika target adalah komuter, placement di area transit dapat menjadi pertimbangan.
Jika target adalah pengendara, billboard di jalur kendaraan dapat lebih relevan.
2. Traffic
Perhatikan jumlah dan karakter traffic.
Namun, traffic tinggi saja belum cukup.
Yang lebih penting adalah:
Apakah traffic tersebut berasal dari audience yang relevan?
3. Visibility
Placement perlu memiliki visibilitas yang baik.
Perhatikan:
- Jarak pandang.
- Arah kendaraan.
- Ukuran media.
- Sudut pandang.
- Hambatan visual.
- Kondisi sekitar.
Media dengan traffic tinggi tetapi sulit terlihat belum tentu menjadi placement yang ideal.
4. Context
Konteks lingkungan juga penting.
Misalnya brand olahraga dapat mempertimbangkan placement di sekitar:
- Pusat kebugaran.
- Venue olahraga.
- Kawasan lifestyle.
Konteks dapat membantu membuat iklan terasa lebih relevan.
5. Frequency
Jika target audience melewati lokasi yang sama setiap hari, placement tersebut dapat memberikan exposure berulang.
Ini dapat membantu campaign yang bertujuan membangun awareness dan brand recall.
6. Durasi
Placement yang sama dapat memberikan value berbeda tergantung durasi campaign.
Campaign satu minggu tentu memiliki pola exposure berbeda dengan campaign tiga bulan.
7. Budget
Placement premium biasanya memiliki biaya lebih tinggi.
Namun, jangan hanya membandingkan harga.
Pertimbangkan:
Cost + Audience Fit + Exposure + Visibility + Objective
Tujuannya adalah menemukan placement yang memberikan value terbaik, bukan sekadar yang paling murah atau paling mahal.
Contoh Menentukan Placement
Misalnya sebuah brand ingin memperkenalkan produk baru kepada pekerja urban di Jakarta.
Target
Profesional usia 25–40 tahun.
Kebiasaan
Berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan atau transportasi umum.
Strategi Placement
Brand dapat mempertimbangkan:
- Billboard di jalur komuter.
- Media di stasiun.
- Branding KRL.
- Videotron di kawasan bisnis.
Mengapa?
Karena placement tersebut berpotensi mempertemukan brand dengan audience dalam aktivitas sehari-hari mereka.
Placement Tidak Berdiri Sendiri
Placement sebaiknya menjadi bagian dari strategi media secara keseluruhan.
Alurnya dapat dibuat seperti:
Campaign Objective
↓
Target Audience
↓
Media Selection
↓
Placement
↓
Creative Adaptation
↓
Exposure
↓
Measurement
Artinya, placement tidak seharusnya dipilih terlebih dahulu tanpa memahami siapa target dan apa tujuan campaign.
Kesalahan dalam Memilih Placement
Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
Hanya Mengejar Traffic
Lokasi ramai belum tentu memiliki audience yang relevan.
Hanya Melihat Harga
Placement murah belum tentu memberikan value yang baik.
Mengabaikan Visibility
Media terlihat dari peta belum tentu mudah dilihat oleh audiens.
Tidak Mempertimbangkan Mobilitas
Untuk OOH, penting memahami bagaimana audiens bergerak melewati media.
Tidak Menyesuaikan Creative
Creative yang efektif pada satu placement belum tentu optimal pada placement lain.
Placement dalam dunia periklanan adalah posisi atau lokasi spesifik tempat iklan ditampilkan kepada target audience.
Placement dapat berupa titik billboard, lokasi media transit, posisi iklan di website, hingga format tertentu dalam platform digital.
Pemilihan placement tidak cukup berdasarkan:
“Di mana traffic paling tinggi?”
Tetapi perlu mempertimbangkan:
Target Audience + Traffic + Visibility + Context + Frequency + Budget + Campaign Objective
Karena pada akhirnya, iklan bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga di mana pesan tersebut bertemu dengan audiens.