Menentukan jumlah budget marketing memang penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: bagaimana cara membagi budget marketing agar tidak habis di satu tempat?
Marketing biasanya melibatkan banyak aktivitas. Ada advertising, social media, SEO, content, event, branding, hingga aktivitas untuk mempertahankan pelanggan. Jika semua mendapatkan budget tanpa prioritas yang jelas, pengeluaran bisa membesar tetapi hasilnya belum tentu maksimal.
Karena itu, cara membagi budget marketing sebaiknya dimulai dari tujuan bisnis, bukan dari persentase yang sudah ditentukan sebelumnya.
Apa Itu Pembagian Budget Marketing?
Pembagian budget marketing adalah proses menentukan berapa banyak anggaran yang dialokasikan untuk setiap aktivitas pemasaran dalam periode tertentu.
Misalnya, perusahaan memiliki budget marketing Rp500 juta dalam satu tahun. Anggaran tersebut tidak harus dibagi rata ke semua channel.
Sebagian bisa digunakan untuk digital advertising, sebagian untuk SEO dan content, sebagian untuk branding, dan sebagian lagi disimpan untuk testing atau kebutuhan yang muncul di tengah campaign.
Yang penting bukan membuat semua channel mendapatkan bagian yang sama, tetapi memastikan setiap pengeluaran memiliki fungsi yang jelas.
Kenapa Budget Marketing Perlu Dibagi dengan Strategis?
Budget marketing yang tidak memiliki prioritas bisa menimbulkan beberapa masalah.
Perusahaan mungkin terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk aktivitas yang sebenarnya sudah tidak memberikan hasil signifikan. Di sisi lain, channel yang berpotensi menghasilkan leads justru kekurangan budget.
Pembagian budget yang baik membantu perusahaan untuk:
- Menentukan prioritas marketing
- Mengontrol pengeluaran
- Menghindari ketergantungan pada satu channel
- Mengalokasikan budget sesuai objective
- Mempermudah evaluasi campaign
- Menyediakan ruang untuk eksperimen
Cara Membagi Budget Marketing Secara Efektif
1. Mulai dari Marketing Objective
Jangan langsung membagi budget menjadi “30% digital, 20% social media, 10% event” dan seterusnya.
Tentukan dulu apa yang ingin dicapai.
Contohnya:
Meningkatkan brand awareness di Jabodetabek.
Atau:
Mendapatkan 1.000 leads baru dalam satu tahun.
Atau:
Memperkenalkan produk baru kepada segmen konsumen tertentu.
Objective yang berbeda membutuhkan alokasi budget yang berbeda pula.
2. Bedakan Budget untuk Awareness dan Conversion
Tidak semua aktivitas marketing memiliki tujuan yang sama.
Aktivitas awareness berfungsi memperkenalkan dan menjaga keberadaan brand di benak audiens. Sementara aktivitas conversion lebih dekat dengan tindakan seperti inquiry, leads, atau transaksi.
Contohnya:
| Fokus | Contoh Aktivitas |
|---|---|
| Awareness | OOH, video advertising, sponsorship |
| Consideration | Content, social media, website |
| Conversion | Google Ads, landing page, remarketing |
| Retention | CRM, email, loyalty program |
Pembagian ini membantu perusahaan melihat fungsi setiap pengeluaran, bukan hanya nominalnya.
3. Prioritaskan Channel yang Sesuai Target Audiens
Tidak semua channel cocok untuk semua target market.
Jika targetnya adalah profesional, misalnya, strategi bisa berbeda dengan brand yang menyasar mahasiswa atau keluarga muda.
Pertimbangkan:
- Di mana target audiens berada?
- Apa yang mereka konsumsi?
- Bagaimana mereka mencari informasi?
- Kapan mereka biasanya membutuhkan produk?
- Bagaimana proses mereka sebelum membeli?
Dari sini, perusahaan dapat menentukan channel yang benar-benar relevan.
4. Gunakan Data Campaign Sebelumnya
Data historis adalah salah satu bahan paling berguna untuk menentukan pembagian budget.
Jika sebelumnya perusahaan sudah menjalankan beberapa channel, lihat hasilnya.
Misalnya:
| Channel | Budget | Leads | CPL |
|---|---|---|---|
| Google Ads | Rp50 juta | 250 | Rp200 ribu |
| Social Ads | Rp40 juta | 120 | Rp333 ribu |
| SEO | Rp30 juta | 150 | Rp200 ribu |
Data tersebut tidak berarti channel dengan CPL lebih rendah harus otomatis mendapatkan seluruh budget.
Perusahaan tetap perlu melihat kualitas leads, conversion ke sales, revenue, serta tujuan campaign.
Namun, data seperti ini bisa menjadi dasar yang jauh lebih kuat dibanding membagi budget berdasarkan asumsi.
5. Jangan Hanya Mengandalkan Satu Channel
Memusatkan seluruh budget pada satu channel memang terlihat sederhana, tetapi memiliki risiko.
Performa platform bisa berubah, biaya iklan bisa meningkat, atau audiens mulai mengalami ad fatigue.
Karena itu, perusahaan dapat menggunakan kombinasi beberapa channel yang memiliki fungsi berbeda.
Misalnya:
SEO → menangkap organic demand
Google Ads → menangkap existing demand
Social Media → membangun engagement dan komunikasi
OOH → memperluas visibility dan awareness
CRM → mempertahankan hubungan dengan customer
Dengan kombinasi tersebut, setiap channel dapat menjalankan perannya dalam customer journey.
6. Sisihkan Budget untuk Testing
Jangan menghabiskan seluruh budget untuk strategi yang sudah direncanakan sejak awal.
Sediakan sebagian anggaran untuk testing.
Testing dapat digunakan untuk mencoba:
- Creative baru
- Audience baru
- Format iklan baru
- Keyword baru
- Placement baru
- Channel baru
- Landing page baru
Besarnya budget testing tidak harus sama untuk setiap bisnis. Yang penting, perusahaan memiliki ruang untuk mencoba pendekatan baru tanpa mengganggu campaign utama.
Contoh Pembagian Budget Marketing
Misalnya sebuah perusahaan memiliki budget marketing Rp500 juta untuk satu periode.
Salah satu contoh pembagian berdasarkan fungsi bisa seperti berikut:
| Fokus | Alokasi Contoh | Budget |
|---|---|---|
| Brand Awareness | 30% | Rp150 juta |
| Demand Generation | 20% | Rp100 juta |
| Lead Generation | 30% | Rp150 juta |
| Retention | 10% | Rp50 juta |
| Testing | 10% | Rp50 juta |
| Total | 100% | Rp500 juta |
Pembagian tersebut bukan formula wajib. Bisnis yang sedang fokus ekspansi mungkin membutuhkan porsi awareness lebih besar. Sementara bisnis yang sudah memiliki brand awareness kuat mungkin mengalokasikan lebih banyak budget ke lead generation atau retention.
Bagaimana Menentukan Porsi Budget Setiap Channel?
Setelah menentukan fungsi, barulah budget dapat diturunkan ke masing-masing channel.
Misalnya budget awareness Rp150 juta dapat digunakan untuk kombinasi:
- OOH
- Video advertising
- Social media
- Event atau activation
Sementara budget lead generation Rp150 juta dapat digunakan untuk:
- Google Ads
- Landing page
- SEO
- Remarketing
Dengan pendekatan ini, pembagian budget menjadi lebih logis karena setiap pengeluaran memiliki hubungan dengan objective.
Jangan Hanya Mengukur dari Cost per Lead
Untuk campaign yang berorientasi leads, cost per lead memang penting. Namun, jangan berhenti di sana.
Misalnya:
Channel A: menghasilkan 500 leads dengan CPL Rp100 ribu.
Channel B: menghasilkan 200 leads dengan CPL Rp200 ribu.
Sekilas Channel A terlihat lebih efisien. Tetapi jika sebagian besar leads dari Channel A tidak berkualitas, sementara Channel B menghasilkan lebih banyak qualified leads dan sales, kesimpulannya bisa berbeda.
Karena itu, evaluasi sebaiknya melihat rangkaian metrik:
Budget → Leads → Qualified Leads → Conversion → Revenue
Dengan begitu, perusahaan tidak hanya mengejar leads murah, tetapi juga melihat kontribusinya terhadap bisnis.
Budget Marketing Perlu Dievaluasi Secara Berkala
Pembagian budget tidak harus bersifat permanen selama satu tahun.
Misalnya setelah tiga bulan terlihat bahwa salah satu channel menghasilkan performa di bawah target. Perusahaan dapat melakukan evaluasi dan mempertimbangkan realokasi budget.
Sebaliknya, jika sebuah channel menunjukkan peluang yang kuat, sebagian budget testing atau budget dari aktivitas lain dapat dipertimbangkan untuk dialihkan.
Pendekatan seperti ini membuat marketing budget lebih fleksibel.
Kesalahan dalam Membagi Budget Marketing
Membagi Budget Sama Rata
Setiap channel tidak memiliki peran dan kebutuhan biaya yang sama. Membagi budget secara rata belum tentu menghasilkan strategi yang seimbang.
Mengikuti Tren
Channel yang sedang populer belum tentu relevan dengan target audiens.
Hanya Fokus pada Performance
Brand building juga memiliki peran dalam membangun demand jangka panjang. Karena itu, seluruh budget tidak selalu harus diarahkan ke aktivitas yang menghasilkan conversion secara langsung.
Tidak Mengukur Kualitas Hasil
Jumlah leads atau traffic saja belum cukup. Perhatikan juga kualitas audience dan dampaknya terhadap bisnis.
Tidak Melakukan Evaluasi
Budget yang sudah direncanakan bukan berarti tidak boleh berubah. Kondisi pasar, performa campaign, dan prioritas bisnis dapat berubah sepanjang periode.
Cara Sederhana Membagi Budget Marketing
Jika ingin membuat prosesnya lebih sederhana, gunakan urutan berikut:
1. Tentukan business goal
↓
2. Tentukan marketing objective
↓
3. Tentukan target audiens
↓
4. Kelompokkan kebutuhan berdasarkan fungsi
↓
5. Pilih channel yang relevan
↓
6. Tentukan budget setiap channel
↓
7. Sisihkan budget untuk testing
↓
8. Ukur hasil dan lakukan realokasi
Dengan alur tersebut, perusahaan tidak perlu terpaku pada satu formula pembagian budget.
Kesimpulan
Cara membagi budget marketing yang efektif bukan dengan mencari persentase yang paling ideal, tetapi dengan memastikan setiap bagian budget memiliki tujuan yang jelas.
Mulai dari objective, pahami target audiens, tentukan channel yang relevan, gunakan data historis, lalu evaluasi hasilnya secara berkala.
Marketing budget juga sebaiknya tidak dilihat sebagai angka yang kaku. Ketika kondisi bisnis dan performa campaign berubah, alokasi budget dapat ikut disesuaikan.
Dengan begitu, setiap rupiah yang dikeluarkan bukan sekadar menjadi biaya marketing, tetapi menjadi bagian dari strategi untuk mencapai target bisnis.