Dalam menyusun strategi marketing, istilah marketing goal dan marketing objective sering digunakan secara bergantian. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan tujuan pemasaran, tetapi memiliki tingkat yang berbeda.
Secara sederhana, marketing goal menggambarkan arah besar yang ingin dicapai, sedangkan marketing objective menerjemahkan arah tersebut menjadi target yang lebih spesifik dan dapat diukur.
Memahami perbedaannya membantu tim marketing menyusun strategi dan KPI dengan lebih jelas.
Apa Itu Marketing Goal?
Marketing goal adalah tujuan besar yang ingin dicapai oleh aktivitas pemasaran.
Goal biasanya masih bersifat umum dan memberikan gambaran mengenai arah yang ingin dituju.
Contohnya:
Meningkatkan brand awareness.
Atau:
Memperluas pasar ke wilayah baru.
Goal belum tentu menjelaskan angka, detail target audience, atau batas waktu secara spesifik. Fungsinya lebih sebagai arah utama bagi tim marketing.
Apa Itu Marketing Objective?
Marketing objective adalah target yang lebih spesifik yang dibuat untuk membantu bisnis mencapai marketing goal.
Objective biasanya memiliki ukuran keberhasilan dan periode waktu yang jelas.
Contohnya:
Meningkatkan aided brand awareness sebesar 20% pada target audience di Jakarta dalam enam bulan.
Dibandingkan goal, objective memberikan informasi yang lebih detail mengenai apa yang ingin dicapai, seberapa besar targetnya, dan kapan harus dicapai.
Perbedaan Marketing Goal dan Marketing Objective
Perbedaannya dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:
| Aspek | Marketing Goal | Marketing Objective |
|---|---|---|
| Fokus | Arah besar | Target spesifik |
| Sifat | Lebih umum | Lebih konkret |
| Pengukuran | Tidak selalu langsung terukur | Harus dapat diukur |
| Waktu | Cenderung lebih luas | Memiliki deadline |
| Fungsi | Menentukan arah | Menentukan target |
| Contoh | Meningkatkan brand awareness | Meningkatkan reach sebesar 30% dalam 3 bulan |
Dengan demikian, goal memberikan arah, sedangkan objective memberikan target yang lebih jelas untuk mencapai arah tersebut.
Contoh Marketing Goal dan Marketing Objective
Misalnya sebuah brand ingin memperkuat keberadaannya di pasar Jakarta.
Marketing Goal:
Meningkatkan brand awareness di Jakarta.
Goal tersebut masih cukup luas.
Kemudian dibuat beberapa objective:
Meningkatkan reach target audience sebesar 30% dalam tiga bulan.
Meningkatkan branded search sebesar 20% dalam enam bulan.
Meningkatkan website traffic dari Jakarta sebesar 25% dalam satu kuartal.
Beberapa objective tersebut dapat mendukung satu goal yang sama.
Mana yang Dibuat Lebih Dulu?
Secara logis, marketing goal ditentukan lebih dahulu.
Alurnya dapat digambarkan seperti:
Business Goal → Marketing Goal → Marketing Objective → Marketing Strategy → Marketing Activities → KPI
Misalnya:
Business Goal: Memperluas bisnis di Jakarta.
Marketing Goal: Membangun awareness di pasar Jakarta.
Marketing Objective: Meningkatkan reach target audience sebesar 30% dalam tiga bulan.
Marketing Strategy: Menggabungkan digital dan offline advertising untuk menjangkau target audience di area yang relevan.
Marketing Activities: Digital ads, social media, content marketing, dan OOH advertising.
Dengan struktur seperti ini, aktivitas marketing memiliki hubungan yang jelas dengan tujuan bisnis.
Apakah Marketing Goal Harus Selalu Satu?
Tidak.
Sebuah bisnis dapat memiliki beberapa marketing goal tergantung kebutuhan.
Misalnya:
- Meningkatkan brand awareness
- Mendapatkan pelanggan baru
- Meningkatkan customer retention
- Memperluas market
- Meningkatkan brand consideration
Namun, terlalu banyak goal sekaligus dapat membuat fokus marketing menjadi kurang jelas.
Prioritaskan goal berdasarkan kebutuhan bisnis pada periode tersebut.
Apakah Satu Goal Bisa Memiliki Banyak Objective?
Bisa.
Bahkan dalam banyak kasus, satu goal memang membutuhkan beberapa objective.
Misalnya goal-nya adalah:
Meningkatkan customer acquisition.
Objective yang mendukungnya bisa berupa:
- Meningkatkan qualified leads sebesar 20%
- Meningkatkan conversion rate sebesar 10%
- Menurunkan cost per qualified lead sebesar 15%
Ketiga objective tersebut melihat aspek berbeda dari customer acquisition.
Hubungan dengan KPI
Marketing objective sering kali berhubungan langsung dengan KPI.
Misalnya:
Goal: Meningkatkan lead generation.
Objective: Menghasilkan 1.000 qualified leads dalam enam bulan.
KPI: Qualified leads, conversion rate, CPL, dan cost per qualified lead.
Namun, KPI tidak selalu sama dengan objective.
Objective adalah target yang ingin dicapai, sementara KPI adalah indikator yang digunakan untuk memantau dan mengevaluasi performa.
Contohnya, jumlah impressions dapat menjadi KPI dalam campaign tertentu, tetapi belum tentu menjadi tujuan utama bisnis.
Marketing Goal vs Objective vs Strategy
Ketiga istilah ini juga sering tertukar.
Marketing Goal
Menjelaskan arah besar.
Meningkatkan brand awareness.
Marketing Objective
Menjelaskan target spesifik.
Meningkatkan reach target audience sebesar 30% dalam tiga bulan.
Marketing Strategy
Menjelaskan pendekatan yang digunakan untuk mencapai target.
Menggunakan kombinasi digital advertising, content marketing, dan OOH untuk menjangkau target audience di berbagai touchpoint.
Kemudian strategy diterjemahkan menjadi aktivitas.
Misalnya membuat konten, menjalankan iklan, melakukan activation, atau menggunakan media tertentu.
Apakah Goal Harus Selalu Tidak Terukur?
Tidak selalu.
Dalam praktiknya, istilah goal dan objective tidak selalu digunakan dengan definisi yang sama di setiap perusahaan.
Ada organisasi yang menggunakan istilah “goal” untuk target yang sangat terukur. Ada juga yang menggunakan “goal” dan “objective” secara bergantian.
Karena itu, yang paling penting bukan memperdebatkan istilahnya, tetapi memastikan setiap level perencanaan memiliki fungsi yang jelas.
Jika perusahaan menggunakan “goal” sebagai target terukur, tidak ada masalah selama definisinya konsisten di dalam organisasi.
Cara Membuat Marketing Objective dari Marketing Goal
Jika sudah memiliki marketing goal, objective dapat dibuat dengan beberapa langkah.
1. Tentukan Hasil yang Ingin Dicapai
Mulai dengan melihat apa yang ingin berubah.
Misalnya ingin meningkatkan awareness, leads, sales, atau retention.
2. Tentukan Ukurannya
Tentukan metrik yang dapat menunjukkan perubahan tersebut.
Misalnya reach, qualified leads, revenue, conversion rate, atau retention rate.
3. Tentukan Target Angka
Berapa perubahan yang ingin dicapai?
Misalnya meningkat 20%, mendapatkan 500 leads, atau mencapai revenue tertentu.
4. Tentukan Periode
Tentukan kapan target tersebut harus tercapai.
Misalnya dalam tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun.
5. Pastikan Target Masuk Akal
Bandingkan dengan performa sebelumnya, kapasitas bisnis, budget, dan kondisi pasar.
Objective yang terlalu tinggi tanpa dasar dapat membuat evaluasi menjadi kurang bermakna.
Contoh Berdasarkan Jenis Marketing Goal
Goal: Brand Awareness
Objective:
Meningkatkan reach target audience sebesar 30% dalam satu kuartal.
Goal: Lead Generation
Objective:
Menghasilkan 500 qualified leads dalam enam bulan.
Goal: Sales
Objective:
Meningkatkan revenue dari channel digital sebesar 20% dalam satu tahun.
Goal: Customer Retention
Objective:
Meningkatkan repeat purchase rate sebesar 15% dalam enam bulan.
Goal: Market Expansion
Objective:
Mendapatkan 1.000 leads baru dari wilayah Jawa Timur dalam enam bulan.
Contoh tersebut menunjukkan bagaimana goal yang masih berada di level arah besar dapat diterjemahkan menjadi target yang lebih konkret.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Goal dan Objective Dibuat Tanpa Hubungan
Objective seharusnya membantu mencapai goal.
Jika goal-nya brand awareness tetapi objective yang dibuat hanya berfokus pada jumlah transaksi, perlu dilihat kembali apakah keduanya memang berkaitan.
Terlalu Banyak Objective
Semakin banyak target, semakin banyak pula sumber daya yang harus dialokasikan.
Pilih objective yang benar-benar penting.
Target Tidak Memiliki Deadline
“Menambah leads” bukan objective yang lengkap.
Lebih jelas jika terdapat angka dan periode.
Terlalu Fokus pada Vanity Metrics
Angka seperti followers, likes, atau impressions bisa berguna, tetapi tidak selalu menunjukkan dampak bisnis.
Pilih indikator yang sesuai dengan tujuan campaign.
Menganggap Semua Goal Harus Menghasilkan Sales
Marketing memiliki fungsi yang lebih luas daripada conversion langsung.
Brand awareness, consideration, customer acquisition, dan retention dapat menjadi bagian dari tujuan marketing dengan peran masing-masing.
Marketing Goal dan Objective dalam Marketing Plan
Marketing goal dan objective kemudian menjadi bagian dari marketing plan.
Contohnya:
Marketing Goal: Meningkatkan brand awareness.
Marketing Objective: Meningkatkan reach target audience sebesar 30% dalam tiga bulan.
Target Audience: Profesional usia 25–40 tahun di Jakarta.
Strategy: Integrated digital dan offline campaign.
Channel: Social media, digital advertising, content marketing, dan OOH.
KPI: Reach, impressions, frequency, branded search, dan website traffic.
Dengan struktur tersebut, tim dapat melihat hubungan antara tujuan dan aktivitas yang dijalankan.
Marketing goal dan marketing objective sama-sama penting, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.
Marketing goal memberikan arah besar mengenai apa yang ingin dicapai bisnis melalui aktivitas marketing.
Sementara marketing objective menerjemahkan arah tersebut menjadi target yang lebih spesifik, terukur, dan memiliki batas waktu.
Hubungannya dapat disederhanakan menjadi:
Goal → Objective → Strategy → Activity → KPI
Dengan memahami perbedaan ini, tim marketing dapat membuat perencanaan yang lebih terstruktur. Goal memberikan gambaran mengenai tujuan besar, sementara objective membantu memastikan bahwa tujuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi target yang jelas dan bisa dievaluasi.
Pada akhirnya, istilah yang digunakan setiap perusahaan bisa saja berbeda. Yang paling penting adalah setiap level perencanaan memiliki tujuan yang jelas, saling terhubung, dan dapat membantu bisnis mengambil keputusan marketing dengan lebih terarah.